Kompas.com - 19/02/2015, 14:35 WIB
Limabelas mahasiswa Indonesia berkesempatan menimba ilmu teknologi informasi dan komunikasi di KOMPAS/PEPIH NUGRAHALimabelas mahasiswa Indonesia berkesempatan menimba ilmu teknologi informasi dan komunikasi di "Kampus Huawei" di Shanghai dan Shenzhen, Tiongkok. Di sela-sela kesibukannya, ke-15 mahasiswa/mahasiswi ini "ngamen" tari kecak bali di ruang terbuka di Kawasan Bund, Shanghai. Para pengunjung antusias menonton pertunjukkan gratis ala mahasiswa Indonesia ini.
|
EditorReza Wahyudi

Selama dua pekan, mahasiswa digembleng bukan sekadar teori ilmu ICT yang advance dan praktik lapangan, tetapi diperkenalkan kepada budaya dan dipertemukan dengan mahasiswa Tiongkok yang sedang belajar bahasa dan sastra Indonesia.

David Wang dalam sesi akhir program menyebutkan, hadirnya 15 mahasiswa kelak menguntungkan dua komunitas negera besar Tiongkok dan Indonesia, sebab mereka akan menjadi tulang punggung ICT di kemudian hari. “Tetap menjaga hubungan, jangan sampai kehilangan kontak,” pesan Wang.

Dalam bahasa Holy Ranaivozanany, Kepala CSR Huawei, hadirnya ribuan mahasiswa asing dari berbagai negara setiap tahunnya merupakan strategi Huawei untuk selalu terhubung satu dengan yang lainnya. Sebagai perusahaan ICT terkemuka yang memiliki tanggung jawab sosial global, kata dia, Huawei menjalin hubungan dengan berbagai universitas di sejumlah negara. Mahasiswa yang terpilih adalah mereka yang lolos penyaringan yang kemudian dilatih oleh para pakar Huawei berbagai disiplin ilmu dan bisnis terkait ICT.

“Memang yang magang di Huawei ini mahasiswa berlatar belakang teknologi informasi, tetapi tahun ini kami mencoba menjaring mahasiswa hukum dan bisnis. Kami paham, apa yang kami kerjakan di sini tidak lepas dari persoalan hukum dan utamanya bagaimana bisnis ICT dikembangkan secara global,” kata Ranaivozanany menjawab pertanyaan Kompas mengenai kemungkinan jurusan lain selain teknik informasi yang bisa magang di “Kampus Huawei”.

Apakah ribuan mahasiswa yang magang termasuk mahasiswa Indonesia diwajibkan bekerja di Huawei, Yunny Christine memastikan, tidak ada komitmen apapun apalagi paksaan mahasiswa setelah lulus wajib bekerja di Huawei. “Ini bagian dari keterbukaan, mereka bebas bekerja di tempat lain,” katanya.

Keterbukaan Huawei tercermin dari kebebasan ribuan karyawannya menggunakan perangkat komunikasi produk lain, bahkan ponsel produk pesaing sekalipun di lingkungan tempat mereka bekerja.

Bagaimana Huawei menguji sebuah smartphone produk terbarunya sebelum diluncurkan ke pasar? Ikuti perjalanan TechTravel berikutnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.