AS Pertanyakan Aturan soal "Smartphone" Indonesia

Kompas.com - 24/02/2015, 21:17 WIB
Beberapa handset yang mendukung 4G LTE dipamerkan dalam acara ulang tahun Indosat, Kamis (20/11/2014). Oik Yusuf/KompasTeknoBeberapa handset yang mendukung 4G LTE dipamerkan dalam acara ulang tahun Indosat, Kamis (20/11/2014).
|
EditorWicak Hidayat
JAKARTA, KOMPAS.com — Amerika Serikat (AS) "kebakaran jenggot" menghadapi Indonesia yang mensyaratkan tingkat kandungan dalam negeri ( TKDN) 40 persen. Mereka pun menekankan agar regulasi tersebut diperlunak.

Regulasi yang dimaksud rencananya diberlakukan mulai 1 Januari 2017 yang akan datang. Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia (Menkominfo) Rudiantara menetapkan bahwa smartphone impor yang tidak memenuhi TKDN 40 persen dilarang masuk ke Indonesia.

Saat ini, Badan Perwakilan Dagang AS, badan yang menangani negosiasi dagang AS dengan Indonesia, tengah membahas masalah TKDN dengan pejabat berwenang serta dalam forum-forum multinasional. Mereka keberatan dengan aturan tersebut.

Kritik terhadap aturan "made in Indonesia" itu, termasuk dari grup bisnis berpengaruh di AS, menyatakan bahwa efeknya bisa meningkatkan biaya serta menyulitkan akses terhadap teknologi.

"AS merasa prihatin dan sangat mendukung kepastian bahwa teknologi informasi dan komunikasi, yang berperan penting pada perkembangan ekonomi, dapat diakses secara terbuka di Indonesia," ujar juru bicara kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat di Indonesia, seperti dikutip KompasTekno dari Reuters, Selasa (24/2/2015).

Jumlah pengguna smartphone Indonesia terhitung kurang dari sepertiga total penduduknya. Sementara itu, di Tiongkok, pengguna ponsel pintar terhitung sudah 80 persen dari total penduduknya.

Jumlah pengguna di Indonesia memang lebih rendah dari Tiongkok. Namun, menurut lembaga riset pasar Canalys, justru itu berarti potensi pembelinya masih menggiurkan. Potensi pembeli itulah yang memikat perusahaan raksasa seperti Apple dan Samsung.

Di sisi lain, aturan mengenai TKDN akan menyulitkan perusahaan seperti mereka untuk masuk ke Indonesia yang "haus" smartphone canggih. Saat aturan tersebut berlaku, mereka hanya punya pilihan untuk membangun pabrik atau mencari rekanan perakitan domestik.

Foxconn, salah satu pemasok utama Apple, tahun lalu sempat berniat mendirikan pabrik khusus ponsel di Indonesia. Namun, hingga kini perkembangannya masih lambat.

Sementara itu, Samsung dikabarkan telah mulai memproduksi ponsel di Indonesia. Mereka telah membuka pabrik di dekat Jakarta, tahun lalu.



Sumber Reuters

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X