Ini Cara Pemerintah "Awasi" Transaksi Dagang Online

Kompas.com - 25/02/2015, 11:12 WIB
|
EditorWicak Hidayat
JAKARTA, KOMPAS.com — Mekanisme pemberlakukan pajak bagi e-commerce masih terus digodok oleh tiga kementerian, yakni Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Kementerian Perdagangan (Kemendag), dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Pasalnya, bukan hal yang mudah untuk mendata izin usaha dan penghasilan yang berbasis dunia maya. Hal ini diakui Deputi Direktur Kemenkeu Nufransa Wira Sakti.

"Kami pernah tarik sampling 2.000 pemain e-commerce, yang punya NPWP (nomor pokok wajib pajak) enggak sampai 50 persen," kata dia seusai menjadi pembicara pada perhelatan Social Media Week 2015, di Pacific Place, Jakarta, Selasa (24/2/2015).

Disinyalir, hampir semua yang tak punya NPWP tersebut adalah pelaku e-commerce kategori online retail yang levelnya individu. Bagaimana tidak, untuk berjualan, individu hanya perlu membuka akun di platform tertentu tanpa persyaratan menyertakan NPWP sehingga urusan pajaknya rentan luput dari pengawasan pemerintah.

Adapula platform yang sering digunakan pelaku online retail adalah jejaring sosial Facebook, forum online Kaskus, atau marketplace sejenis Tokopedia.

"Kalau pemain besar yang masuk kategori marketplace kan biasanya beriklan di televisi atau di media lain. Itu mengharuskan penarikan pajak. Maka, sudah pasti punya NPWP," kata pria yang juga aktif menulis di Kompasiana ini.

Cara pemerintah "awasi" pelaku online retail

Walau mekanismenya sulit, pemerintah terus mengupayakan pemberlakuan pajak yang adil dan merata untuk semua pelaku e-commerce. Salah satunya adalah bekerja sama dengan penyedia layanan ekspedisi.

"Kita bisa lihat dari transaksi barangnya. Misalnya jual baju, pasti kan dikirim barangnya. Dari situ, kita awasi. Kita kerja sama dengan pihak swasta, pos, dan Kemenkominfo juga," Nufransa menjelaskan.

Pengawasan transaksi barang dan jasa tersebut, kata Nufransa, sudah mulai dilakukan sejak tahun lalu. Namun, Nufransa berdalih saat ditanya ihwal mekanisme spesifiknya. "Itu urusan di dalam kementerian," begitu katanya.

Untuk saat ini, Nufransa mengakui pemerintah masih dalam tahap sosialisasi pemberlakuan pajak e-commerce sehingga beberapa pelaku yang sudah ketahuan tak bayar pajak belum bisa dihukum. "Kami sudah catat beberapa. Tapi, tahun ini kita masih uji kepatuhan. Tahun depan baru penegakan hukumnya," kata Nufransa.

Bagi pengusaha yang sudah punya NPWP pun, mekanisme pajaknya masih atas asas kepercayaan. Semua data didaftarkan dan dilaporkan oleh orangnya sendiri. Mau tak mau pemerintah harus percaya dengan data itu. "Kita percaya sampai kita ketemu data baru yang berbeda dengan itu. Makanya, kami mengawasi," katanya.

Untuk itu, pemerintah terus mengimbau para pelaku e-commerce agar membayar kewajiban pajaknya. Bagi pengusaha yang penghasilannya di bawah Rp 4,8 miliar per tahun, maka cukup membayar 1 persen dari keuntungan per bulan. Kalau penghasilannya di atas angka itu, pemberlakuan pajak dilakukan dengan pembukuan sehingga perinciannya lebih spesifik.

Kategori e-commerce yang wajib pajak

Dalam Lampiran Surat Edaran Nomor SE-62/PJ/2013 (SE-62) oleh Ditjen Pajak, ada empat jenis e-commerce yang memiliki kewajiban membayar pajak.

Jenis e-commerce yang dimaksud adalah, pertama, marketplace, yaitu kegiatan menyediakan tempat kegiatan usaha untuk para penjual menjajakan barang atau jasa dagangannya di internet, misalnya Tokopedia, Rakuten, dan BukaLapak.

Kedua, classified ads atau situs untuk menampilkan konten (teks, grafis, video, dan informasi) barang bagi pengiklan untuk memasang iklan yang ditujukan kepada pengguna iklan melalui situs yang disediakan, misalnya Kaskus, Berniaga, dan TokoBagus.

Ketiga adalah daily deals, yaitu wadah daily deals merchant yang menjual barang atau jasa menggunakan kupon sebagai sarana pembayaran, misalnya LivingSocial, Groupon Disdus, dan LaKupon.

Keempat, online retail, yaitu situs jual beli barang atau jasa oleh penyelenggara online retail kepada pembeli, misalnya berbagai media sosial, blibli, dan Lazada.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.