Lenovo Akan Penuhi Kandungan Lokal 40 Persen

Kompas.com - 11/03/2015, 11:29 WIB
Ponsel Android Lenovo P70 yang memiliki baterai super besar. Yoga Hastyadi/KOMPAS.comPonsel Android Lenovo P70 yang memiliki baterai super besar.
|
EditorReza Wahyudi
JAKARTA, KOMPAS.com - Lenovo menyatakan siap untuk mengikuti aturan pemerintah bila Tingkat Kandungan Dalam Negeri ( TKDN) pada ponsel 4G yang masuk Indonesia ditetapkan pada angka 40 persen. Perusahaan asal Tiongkok itu saat ini sedang melakukan evaluasi terkait berapa persen kemampuannya.

"Soal TKDN kami sedang evaluasi. Kami pasti akan ikuti," tegas Country Head Smartphone Division Lenovo Indonesia Adrie R. Suhadi, usai peluncuran Lenovo P70, Selasa (11/3/2015).

Untuk memenuhi TKDN tersebut, kemungkinan Lenovo akan bekerjasama dengan rekanan lokal. Namun, belum diketahui rekanan seperti apa yang nanti akan mereka gandeng.

"Kami kemungkinan akan menjajaki metode kerjasama dulu, lalu melihat tahun ini bisa memenuhi berapa persen, tahun depan berapa persen kemudiam 2017 kami sudah 40 persen," terang Adrie.

Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia (Menkominfo) Rudiantara, dalam kesempatan berbeda, mengatakan harapannya untuk mewujudkan TKDN 40 persen. Aturan tersebut khususnya untuk semua gadget 4G impor yang masuk ke Indonesia, baik smartphone atau tablet.

Wacana kebijakan yang masih digodok itu sempat menuai protes dari Badan Perwakilan Dagang Amerika Serikat (AS). Mereka khawatir jika penerapan kebijakan itu mempersulit pemasaran produk-produk mereka, misalnya Apple.

Rencananya, aturan menteri soal TKDN tersebut akan diputuskan pada pertengahan tahun ini. Setelah keputusan muncul, maka pemerintah berniat mengadakan konsultasi publik. "Saat itu semua yang punya kepentingan bisa mengajukan pendapatnya," ujar Rudiantara saat ditemui di Mataram, Nusa Tenggara Barat, akhir Februari lalu.

Dalam kesempatan berbeda, Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos Informatika Muhammad Budi Setiawan mengatakan produsen gadget punya dua buah opsi untuk memenuhi TKDN yang dimaksud.

"Harus punya pabrik rakitan atau cukup dengan kerja sama. Jadi (kalau kerja sama) tidak membutuhkan pabrik di Indonesia," tegasnya usai acara konferensi pers Reformasi Perizinan Bidang Pos Telekomunikasi dan Perizinan Spektrum Frekuensi, awal tahun ini.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X