Kejayaan Xiaomi Diramalkan Tak Bertahan Lama

Kompas.com - 11/03/2015, 21:13 WIB
Smartphone flagship Xiaomi terbaru, Mi Note. Reska K. Nistanto/KOMPAS.comSmartphone flagship Xiaomi terbaru, Mi Note.
|
EditorReza Wahyudi
KOMPAS.com - Baru melalang buana sekitar lima tahun di industri smartphone, Xiaomi telah berhasil menjadi produsen smartphoneterbesar ke-3 di dunia. Peningkatan pasar yang signifikan agaknya didorong harga perangkat-perangkat Xiaomi yang terhitung murah.

Pun begitu, HTC memprediksi kejayaan Xiaomi tak bakal bertahan lama. "Saya rasa, model bisnis mereka hanya untuk jangka pendek," begitu kata kepala pemasaran HTC yang baru, Idris Mootee, sebagaimana dilaporkan PhoneArena dan dihimpun KompasTekno, Rabu (11/3/2015).

Mootee juga menganggap Xiaomi sama sekali bukan "ancaman" bagi HTC. Menurutnya, pabrikan asal Tiongkok tersebut hanya akan menguasai pangsa pasar Tiongkok dan beberapa negara Asia. "Xiaomi bukan kompetitor kami. Dengan berbagai alasan, saya ragu mereka bisa masuk ke pasar AS," kata Mootee.

Hanya saja, Mootee tak menjabarkan secara detil berbagai alasan yang ia maksudkan. Seperti diketahui, pada Februari lalu Xiaomi telah berusaha mengekspansi cakupannya ke AS dengan membuka gerai online di sana. Walaupun, untuk sementara, gerai tersebut direncanakan untuk menjual aksesori saja.

Saat ditanya apakah akan menelurkan produk smartphone murah seperti Xiaomi, Moote berkilah hal tersebut bukan pilihan bagi HTC. Menurut Mootee, menjajakan komoditas adalah hal penting bagi tiap vendor gadget, namun itu bukanlah segala-galanya.

"Kalian bisa saja membeli smartphone murah. Tapi apakah kalian akan puas hanya dengan teknologi yang biasa saja ketika saat ini ada banyak teknologi yang sangat canggih? Saya rasa pengguna cenderung mencari yang terbaik walaupun harus merogoh kocek lebih," Mootee menjelaskan ihwal penilaiannya atas pilihan strategi Xiaomi.

Mootee juga mengklaim posisi HTC saat ini lebih stabil dibandingkan Xiaomi. "Smartphone murah datang dan pergi, mereka tak berkelanjutan dan tak menguntungkan. Mereka juga tak membangun sebuah merek, melainkan melulu terkait komoditas. Ini bukan cara bisnis yang kami jalankan," katanya.

Pabrikan asal Taiwan tersebut menganggap sebuah merek harus diperkenalkan sebagai cerita bagi para konsumen. Setiap produk harus digodok dengan menawarkan kisah tertentu, bukan sekadar menjual semurah-murahnya untuk dibeli sebanyak-banyaknya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam hal ini, Mootee menganggap Apple adalah perusahaan teknologi yang sudah menerapkan konsep tersebut. Produk-produk Apple, di mata Mootee, terlihat lebih bernilai ketimbang hanya sekedar komoditas elektronik. "Mereka (Apple) mengedepankan sesuatu, sesuatu yang lebih besar daripada brand," kata dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X