Kompas.com - 13/03/2015, 14:58 WIB
CEO Apple Steve Jobs pada peluncuran iPhone baru tanggal 9 Januari 2007 di San Francisco, California. BBCCEO Apple Steve Jobs pada peluncuran iPhone baru tanggal 9 Januari 2007 di San Francisco, California.
|
EditorWicak Hidayat
KOMPAS.com — Tak ada habis-habisnya membahas seluk-beluk Steve Jobs. Pria di balik kesuksesan Apple ini selalu muncul dengan ide segar dan inovasi teknologi terbaru. Pemikiran, tindakan, strategi bisnis, dan karakter Jobs dalam memimpin Apple tak perlu lagi diragukan.

Beberapa biografi dan tulisan panjang yang mencatat rekam jejak pria ini bisa ditemukan di toko-toko buku dan internet. Namun, dua jurnalis teknologi kawakan Brent Schlender dan Rick Tetzeli tampaknya mampu mengungkap hal-hal lain dari sosok Steve Jobs yang belum pernah muncul ke permukaan.

Tak melulu soal kisah suksesnya, tetapi lebih pada sosok Jobs sebagai manusia sehari-hari yang memiliki emosi dan perasaan. Setidaknya, hal itu yang dijanjikan kedua reporter dalam buku yang mereka sajikan, berjudul Becoming Steve Jobs: The Evolution of a Reckless Upstart into a Visionary Leader.

Hari-hari Jobs terbaring lemah

Ada satu fakta mengejutkan yang baru terungkap dalam buku tersebut, yakni cerita dramatis pada masa-masa kritis kesehatan Jobs. Dua tahun sebelum Jobs meninggal, tepatnya sekitar 2009, Jobs tak pernah lagi datang ke kantor. Ia terserang penyakit lanjutan dari sirosis hati, yakni asites.

Salah satu jenis kanker ini menyebabkan peningkatan berat badan dan tekanan rongga perut, serta memicu sesak napas berkelanjutan. Ada dua faktor utama yang dapat menyebabkan asites, yakni rendahnya kadar albumin dalam darah dan hipertensi portal. Akibatnya, darah tak dapat mengalir ke hati. Kondisi ini mengharuskan Jobs mengganti levernya yang tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Namun kita semua tahu, tak mudah mencari orang yang rela menjadi donor hati. Untuk Jobs, ternyata Tim Cook mau melakukan itu secara sukarela.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebelum memutuskan penawaran tersebut, Cook telah melakukan riset dan belajar tentang pelbagai konsekuensi dari tindakan yang bakal ia lakukan. Dari risetnya, Cook mengetahui bahwa 6.000 donor hati muncul tiap tahun di AS, dan prosesnya kebanyakan berhasil.

Ada pula fakta yang menunjukkan organ hati donor bakal kembali memproduksi hati setelah transplantasi. Semua pengetahuan yang Cook temukan membuatnya mantap "menyelamatkan" hidup Jobs.

Setelah menjalani beberapa tahapan tes fisik untuk menguji apakah kondisi tubuhnya aman untuk melakukan transplantasi, Cook pun bergegas memberi kabar gembira untuk Jobs.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Sumber CultofMac

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.