Kompas.com - 12/04/2015, 18:30 WIB
Situs web berbagi video Vimeo.com VimeoSitus web berbagi video Vimeo.com
|
EditorWicak Hidayat
JAKARTA, KOMPAS.com - Layanan berbagi video Vimeo tak kunjung bebas dari pemblokiran. Nasibnya kini diserahkan pada tim-tim panel dalam forum Penanganan Situs Internet Bermuatan Negatif (PSIBN).

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia (Menkominfo) Rudiantara, soal pembukaan blokir Vimeo masih menunggu masing-masing tim panel selesai menentukan kriteria konten negatif. Setelah itu baru nasib layanan berbagi Video itu bisa dibahas lebih lanjut.

"Vimeo nanti kita serahkan ke panel. Tunggu kriteria soal situasi emergensinya jadi. Kalau sekarang, kriteria lain (pemblokiran) sudah ada, tapi untuk situasi emergensi itu masih diproses," ujarnya saat ditemui KompasTekno dalam acara pembahasan usulan roadmap e-commerce di rumah dinasnya, Jumat (12/4/2015) malam.

Vimeo sudah mengalami pemblokiran sejak era Menkominfo Tifatul Sembiring dengan alasan konten pornografi. Layanan yang dibuat sejak November 2004 itu memang memperbolehkan penggunanya menunggah video bertema ketelanjangan, dengan syarat tidak menampilkan aktivitas seksual.

Awal tahun ini, Menkominfo Rudiantra sempat berkomunikasi dengan Vimeo untuk membahas jalan tengah masalah tersebut. Saat itu ditawarkan solusi berupa proses filtering, yang mewajibkan Vimeo menyensor konten bernuansa pornografi untuk pengakses dari Indonesia.

Namun uji coba filtering itu belum berhasil. Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Bambang Heru Tjahjono menyayangkan hal tersebut. Saat ditemui di ruang serbaguna Kemenkominfo dia sempat mengatakan bahwa hingga kini Vimeo sendiri belum mengontak lebih lanjut.

"Vimeo tampaknya memang tidak ingin ke sini (Indonesia). Kalau Twitter saja kan kemarin ke sini, Facebook juga ada komunikasi. Vimeo ini tidak ada," pungkasnya.

Tim Pemblokir

Kemenkominfo sendiri baru saja membentuk forum PSIBN. Forum ini terdiri dari empat panel yang masing-masing beranggotakan para ahli, akademisi, hingga tokoh-tokoh masyarakat dari bidang tertentu.

Tugasnya adalah menyusun analisa mengenai positif atau negatifnya konten suatu situs di internet. Melalui analisa itu, mereka kemudian dapat mengajukan rekomendasi blokir atau pembebasan blokir kepada kementerian.

Forum yang baru saja mengadakan rapat perdana pada pekan kedua April ini, telah bekerja menangani 19 situs berita yang dituduh bermuatan radikal.

Sejumlah 12 situs berita, yaitu hidayatullah.com, salam-online.com, aqlislamiccenter.com, kiblat.net, gemaislam.com, panjimas.com, muslimdaily.net, voa-islam.com, dakwatuna.com, an-najah.net, eramuslim.com, arrahmah.com, sudah dibuka dari pemblokiran dengan catatan mereka berada dalam pengawasan.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.