Soal E-Commerce, Indonesia Bisa Tiru AS dan Tiongkok

Kompas.com - 12/04/2015, 21:19 WIB
Rudiantara beserta para peserta pembahasan usulan roadmap e-commerce Indonesia Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.comRudiantara beserta para peserta pembahasan usulan roadmap e-commerce Indonesia
|
EditorWicak Hidayat
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia  (Menkominfo) Rudiantara berpendapat upaya pengembangan e-commerce Tanah Air mesti belajar dari Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Alasannya karena e-commerce di sana berhasil tumbuh besar dengan ciri khas masing-masing.

Di Tiongkok misalnya, menteri menemukan bahwa indikator utama pertumbuhan e-commerce, seperti grup Alibaba, ada dalam campur tangan pemerintah. Semua kebijakan dan fungsi yang terkait sektor tersebut dipantau dari titik awal hingga hasilnya.

"Kita pelajari mengapa e-commerce China bisa begitu besar, Ternyata di China, e-commerce memang heavily driven by government. Dari tahun ke tahun apa, jadi semuanya kelihatan," terangnya dalam pembahasan usulan roadmap e-commerce di rumah dinasnya, Jumat (10/4/2015) malam.

"Misalnya kementerian-kementerian atau fungsi-fungsi apa saja di China, mengeluarkan kebijakan apa, semuanya terintegrasi. Mulai dari 2011 mereka mengeluarkan apa dan menghasilkan apa, kemudian  2012 dan 2013. Nah dari situ terlihat pertumbuhannya jadi seperti apa," imbuh Rudiantara.

Pria yang akrab disapa Chief RA ini menuturkan cara Tiongkok tersebut menjadi inspirasi baginya dalam mendorong pertumbuhan e-commerce. Namun, dia mencatat bahwa Indonesia tidak dapat diperlakukan sama.

Dia pun mencoba melihat ke Amerika Serikat yang juga berhasil mengembangkan e-commerce. Ternyata, dalam pengamatannya ada hal berbeda di Negara Paman Sam itu.

Di sana, industri tersebut besar justru karena didorong oleh pertumbuhan pasar. Terutama ketika terjadi dot com bubble pada kurun 90-an silam yang memunculkan perusahaan-perusahaan internet yang kini besar, seperti Amazon.com dan eBay.com.

"Kita lihat lagi Amerika. Mereka modelnya beda karena heavily driven by market, terutama oleh dot com bubble pada waktu itu. Soal ini ibarat yang satu didorong oleh teman, yang satunya didorong oleh pemerintah," ujar Rudiantara.

"Nah kita harus dua-duanya, kombinasi antara pemain e-commerce dan pemerintah. Kita bukan negara Tiongkok yang heavily driven by government," pungkasnya.

Regulasi E-commerce

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X