Teknologi dan Rasa Takut yang Merayap

Kompas.com - 13/04/2015, 13:20 WIB
Kolase yang disusun dari foto-foto Public Domain di Pixabay. Wicak Hidayat/KompasTeknoKolase yang disusun dari foto-foto Public Domain di Pixabay.
|
EditorReza Wahyudi
KOMPAS.com - Mungkin sejak semula manusia telah memiliki kesadaran akan alam yang senantiasa mengancam keberlangsungan hidup mereka. Takut akan hewan pemangsa, bencana alam, dan banyak lagi hal lain yang bisa terjadi.

Namun seiring peradaban berkembang, rasa takut itu juga berkembang. Misalnya, sekarang manusia modern, yang tinggal di kota-kota besar, tak perlu takut lagi akan dimangsa binatang buas. Lebih tepatnya, ketakutan akan binatang buas boleh disebut ketakutan yang tidak rasional, karena kemungkinannya -- jikapun ada -- sangat kecil sekali.

Tapi seakan-akan bersamaan dengan berkembangnya peradaban, maka muncul juga ketakutan-ketakutan serta kecemasan-kecemasan baru pada diri manusia. Ketakutan yang boleh dibilang juga tak beralasan.

Satu contoh rasa takut, atau tepatnya kecemasan, yang melanda manusia modern adalah FOMO, singkatan dari fear of missing out (takut ketinggalan). Ketakutan ini muncul dari kenyataan bahwa manusia (modern) tidak punya cukup waktu untuk melakukan semua yang ia inginkan.

FOMO-lah agaknya yang mendorong orang untuk mau mencoba hal-hal baru yang lagi ngetren. Misalnya, ada toko es krim baru di pusat kota yang konon rasanya enak sekali sampai diantre ratusan orang setiap harinya. Foto-foto es krim itu pun diunggah ke media sosial, tak kurang oleh para pesohor medsos pula! FOMO akan mendorong manusia untuk mencoba es krim itu.

FOBO

Anand Tilak, Country Manager Facebook Indonesia, dalam sebuah pertemuan dengan media di Jakarta, Kamis (9/4/2015), memaparkan sebuah studi yang menggarisbawahi satu jenis kecemasan lainnya: FOBO alias fear of being offline.

Mengutip sebuah studi dari Crowd DNA, Tilak mengatakan 73 persen remaja di Indonesia mengaku ingin selalu terhubung ke internet, di manapun mereka berada. Sebanyak 69 persen anak muda itu bahkan mengaku lebih baik tidak menonton televisi daripada tidak terhubung ke internet.

Mungkin ada hubungannya dengan FOMO, FOBO menunjukkan rasa cemas yang dialami seseorang jika ia tidak terhubung ke internet sejenak saja. Terhubung ke jaringan internet bisa jadi mewakili sebuah kondisi "aman" untuk orang tersebut, bahwa selama ia bisa online ia tak akan tertinggal.

FOBO bisa menjelaskan mengapa orang tertentu "belingsatan" saat aplikasi media sosialnya (entah Path, Twitter, Facebook atau apapun) tak bisa terhubung. Saking cemasnya sampai orang tersebut rela meminjam koneksi dari orang lain atau berpindah lokasi demi mengejar koneksi internet.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X