Industri Ponsel Lokal Hadapi "Pemberi Harapan Palsu"

Kompas.com - 28/05/2015, 13:11 WIB
Abidin Hasibuan, Presiden Direktur PT Sat Nusapersada (Reska K Nistanto/Kompas.com)Abidin Hasibuan, Presiden Direktur PT Sat Nusapersada
|
EditorWicak Hidayat
BATAM, KOMPAS.com - Pelaku industri Electronics Manufacturing Services (EMS) menyambut baik aturan TKDN 30 persen yang akan diterapkan oleh pemerintah Indonesia untuk perangkat smartphone 4G.

"Aturan TKDN ini jadi kesempatan emas bagi EMS dalam negeri, asal aturannya betul-betul diterapkan," demikian ujar Presiden Direktur PT Sat Nusapersada, Abidin Hasibuan.

PT Sat Nusapersada adalah salah satu pabrik perakitan smartphone terbesar yang berada di Batam, Kepulauan Riau, Indonesia, yang berdiri sejak 1999 dengan klaim kapasitas produksi tiga juta unit smartphone per bulan. Sat Nusapersada saat ini memiliki 3.000-an orang karyawan di 11 fasilitas produksinya.

Aturan atau regulasi yang tegas, jelas, dan benar-benar diterapkan secara konsisten oleh pemerintah menurut Abidin akan membantu menarik investasi, sehingga vendor-vendor smartphone besar mendapat kepastian dan gambaran yang jelas akan industri di dalam negeri.

Kepastian dan kejelasan itu menurutnya bisa membantu vendor-vendor luar dalam mengambil keputusan.

"Contohnya saja, bulan Mei lalu saat aturan TKDN mulai dimunculkan, sudah ada 12 brand internasional yang melihat pabrik kami," kata Abidin.

"Namun karena aturannya masih belum jelas, belum tahu kapan mau diterapkan, sekarang tinggal dua brand saja yang mendekati kami," kata Abidin.

"Kita jadi seperti di-PHP-in (diberi harapan palsu) 10 brand," ujarnya di hadapan para jurnalis yang berkunjung ke pabriknya di Batam, Rabu (26/5/2015), termasuk KompasTekno.

Abidin pun mencontohkan pabrik perakitan Foxconn di Tiongkok. Berkat dukungan penuh pemerintah, seperti kebijakan tax holiday dan land free, Foxconn berkembang menjadi perusahaan besar yang menyumbang pendapatan besar pula bagi negara melalui pajak.

Menurut Abidin, potensi masa depan Indonesia salah satunya adalah di smartphone, karena nilainya yang sangat besar. Saat ini, Indonesia diperkirakan mengimpor sebanyak 60 juta unit smartphone dalam satu tahun yang nilainya mencapai 2,1 miliar dollar AS.

"Setiap tahun, penjualan smartphone di Indonesia memiliki tren naik 20 persen," ujar Abidin.

"Kita siap membantu, asal pemerintah konsen ke regulasi yang juga membantu EMS lokal," pungkas Abidin.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X