Kompas.com - 10/06/2015, 15:25 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia Rudiantara Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.comMenteri Komunikasi dan Informatika Indonesia Rudiantara
|
EditorWicak Hidayat

JAKARTA, KOMPAS.com – Peran internet kian masif. Alur informasi pun semakin terbuka dan meluas. Menghadapi ini, Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara menilai, diperlukan pengkajian lebih lanjut demi mewujudkan internet sehat di Indonesia.

“Keterbukaan ini berangkatnya dari Internet of Things (IoT). Jadi semua (benda) sudah pakai internet. Itu memunculkan beberapa isu,” kata menteri RA usai memberi sambutan pada pembukaan Indonesia Cellular Show (ICS), Rabu (10/6/2015) di Plenary Hall, JCC.

Menurut dia, salah satu yang perlu diperhatikan adalah isu teritori internet. Saat ini, konsep dunia maya telah menghapus batasan jarak dan waktu. Maksudnya, semua informasi di dunia bisa diakses oleh seluruh masyarakat dunia nyaris tanpa sekat.

Dalam beberapa lini, hal tersebut memudahkan manusia. Namun, RA menilai ada yang perlu dikritisi di dalamnya. Ia mempertanyakan, apakah internet di Indonesia memang harus bebas dan terbuka atau justru harus memiliki pembatasan tertentu?

“Jadi, internet ini ada teritorinya nggak sih di dunia? Di negara seperti kita, tentunya kita ingin ada semacam kedaulatan. Nggak bisa semuanya (informasi) langsung masuk (ke Indonesia),” RA menuturkan.

Sejauh ini di dunia ada dua kubu pemanfaatan internet. Di satu sisi adalah negara yang menganut internet bebas terbuka dengan pembatasan minimal dan di sisi lain adalah yang sangat membatasi.

Negara yang menganut keterbukaan biasanya tidak menerapkan sensor internet, sehingga meletakkan tanggung jawab konsumsi konten pada masing-masing pengguna.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sedangkan di paham yang lainnya, negara akan menerapkan sensor. Terkadang, sensor ini bukan hanya untuk menghalau konten negatif tapi dipakai untuk membungkam oposisi.

Menteri yang pernah memegang jabatan eksekutif di Indosat dan Telkomsel ini mengatakan, memang isu teritori internet saat ini masih diperdebatkan di dunia.

“Saat ini internet tidak ada batasan teritorinya, batasan negaranya, dan sebagainya. Tapi ini masih menjadi pembahasan internasional,” katanya.

RA menilai, selain isu teritori, isu keamanan dan bisnis internet tak kalah pentingnya. Soal keamanan, pada pekan lalu Presiden Joko Widodo telah meresmikan Badan Cyber Nasional. Lembaga tersebut bertugas mengawal keamanan arus internet di Indonesia. Diharapkan, ancaman terhadap peretasan yang merugikan sektor ekonomi dapat dicegah.

Di sektor bisnis internet, RA mengimbau pengembang aplikasi lokal untuk meningkatkan daya saingnya. Pasalnya, saat ini aplikasi-aplikasi seperti Twitter, Instagram, dkk, merajai pasar Indonesia. Padahal, semua aplikasi itu diakses di atas infrastruktur operator lokal.

Ke depan, RA berharap masyarakat, operator, pemerintah dan pengembang lokal dapat bersinergi untuk mendorong pertumbuhan ekosistem nasional.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.