Kompas.com - 09/08/2015, 16:59 WIB
Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif di acara Popcon Asia 2015 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (7/8/2015). Reska K. Nistanto/KOMPAS.comTriawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif di acara Popcon Asia 2015 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (7/8/2015).
|
EditorOik Yusuf
Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang menyiapkan langkah untuk menanggulangi pembajakan hak karya cipta (intellectual property right).

Salah satunya adalah dengan membuat satuan tugas (Satgas) Pengaduan. Satgas ini nantinya bakal menerima pengaduan segala macam jenis pembajakan, baik secara offline maupun online dari para pemegang hak karya cipta.

Menurut Triawan, Satgas Pengaduan konten bajakan ini perlu dibuat oleh Bekraf karena kasus pembajakan merupakan delik aduan.

"Karena delik aduan, maka kalau kita nggak ngadu maka polisi nggak bisa berbuat apa-apa," ujar Triawan saat dijumpai KompasTekno di sela acara pembukaan Popcon Asia 2015 di Jakarta, Jumat (7/8/2015).

Diakui Triawan, pemberantasan pembajakan konten digital memang menjadi salah satu fokus lembaga pemerintah non-kementerian tersebut.

Sistem peringatan

Selain membuat Satgas Pengaduan, dalam kesempatan terpisah sebelumnya, Triawan juga sempat mengatakan bahwa Bekraf bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Indonesia dan Kemenkominfo mempersiapkan sistem peringatan (alert system).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sistem peringatan tersebut akan dipasang di berbagai situs yang menyediakan konten musik dan film bajakan.

"Jadi kalau orang membajak, bukan situsnya yang ditutup. Tapi pengunduhnya akan diberi peringatan. Semua ISP (internet service provider) akan kita ajak kerja sama," kata Triawan usai jumpa pers IDByte dan Bubu Awards, Rabu (5/7/2015) di Kampus Binus JWC, Senayan, Jakarta.

Saat hendak mengunduh konten secara ilegal, pengguna akan "dikagetkan" dengan pemberitahuan pasal yang dilanggar beserta ancaman hukuman yang dikenai. Di bawah pemberitahuan, bakal ada tautan ke alamat pengunduhan konten orisinal yang berbayar.

"Harganya akan sangat terjangkau. Jadi dengan tautan itu kita mengarahkan pengguna untuk taat hukum," ia menuturkan.

Triawan belum bisa memastikan kapan sistem peringatan pembajakan online ini akan berlaku. Sebab, ia ingin sistem tersebut digodok dengan baik sehingga penerapannya bisa efektif. "Sedang dites terus," ujarnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.