Kompas.com - 07/10/2015, 15:37 WIB
|
EditorReza Wahyudi
KOMPAS.com - Bisnis smartphone Samsung sedang terseok-seok. Produsen ponsel Android terbesar di dunia itu kini sedang mencari jalan untuk kembali untung.

Pada kuartal ketiga tahun ini, Samsung memprediksi laba usaha mencapai 7,3 triliun Won (sekitar Rp 84 triliun) dari penjualannya yang sebesar 51 triliun won.

Dengan demikian, untuk pertama kalinya Samsung mengalami pertumbuhan profit setelah tujuh kuartal berturut-turut secara year-on-year laba Samsung mengalami penurunan.

Pada kuartal ketiga tahun 2014 lalu, Samsung menghasilkan revenue 47,4 triliun won. Artinya tahun ini, revenue Samsung naik sekitar 7 hingga 8 persen. Laba usaha setahun lalu juga mengecewakan, hanya 4,1 triliun won. Maka, Samsung memprediksi peningkatan year-on-year sekitar 78 persen.

Banyak cara

Lalu, apa saja usaha-usaha yang dilakukan Samsung selama ini untuk membangkitkan kembali bisnis smartphone-nya?

Dikutip KompasTekno dari Reuters, Rabu (7/10/2015), Samsung telah mencoba bermacam cara, termasuk merilis smartphone baru untuk pasar low-end di India, dan beralih menggunakan materi logam alih-alih plastik untuk perangkat smartphone kelas atasnya.

Selain itu, Samsung juga memperkenalkan smartphone layar lengkung dan memangkas harga smartphone flagship-nya di kuartal dua tahun ini, Galaxy S6 setelah penjualannya tidak sesuai harapan.

Walau telah melakukan berbagai upaya tersebut, namun nampaknya investor belum terpikat. Pangsa pasarnya masih belum naik dibandingkan dengan Apple di segmen atas, atau ponsel China di pasar low-end.

"Samsung sedang stagnan," ujar Fund Manager IBK Asset Management, Kim Hyun-su. "Mereka kesulitan mencari cara bagaimana cara menumbuhkan permintaan untuk smartphone-nya".

Smartphone-smartphone Android saat ini memang susah untuk bersaing di luar harga jual yang kompetitif. Sebab, fitur atau hardware baru juga bisa ditiru dengan cepat oleh kompetitor.

Samsung juga dinilai memiliki sedikit layanan dan software yang bisa menggaet minat konsumen, namun juga tidak gampang ditiru. Karena itulah Samsung meluncurkan platform pembayaran Samsung Pay yang diharakan bisa mengatasi masalah di atas.

Mengembalikan kepercayaan investor

Selain smartphone, bisnis semikonduktor (chipset) Samsung juga menjadi juru selamat. Selama lima kuartal berturut-turut, bisnis tersebut menjadi penyumbang keuntungan terbesar bagi Samsung.

Seperti diketahui, chipset buatan Samsung bukan hanya dipakai oleh smartphone-smartphone buatannya saja, melainkan juga smartphone vendor lain, termasuk Apple.

Kekurangan pemicu pertumbuhan, Samsung kini menghadapi tekanan untuk mendongkrak pengembalian modal agar kepercayaan para pemegang saham kembali.

"Buyback saham setidaknya akan mengirim pesan bahwa perusahaan masih memikirkan para investornya," ujar Kim Hyun-su.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Reuters

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.