Pemerintah Tak Gubris OpenBTS, Malah Pilih Balon Google

Kompas.com - 30/10/2015, 15:19 WIB
Lintasan terbang balon Google Project Loon di atas laut jawa, sebagaimana ditampilkan Flightradar 24 pada Minggu (22/3/2015) siang sekitar pukul 12.30 WIB Oik Yusuf/ Kompas.comLintasan terbang balon Google Project Loon di atas laut jawa, sebagaimana ditampilkan Flightradar 24 pada Minggu (22/3/2015) siang sekitar pukul 12.30 WIB
|
EditorReza Wahyudi
JAKARTA, KOMPAS.com — Pegiat open source Onno W Purbo kecewa dengan sikap pemerintah terhadap Project Loon. Pasalnya, pemerintah terlihat antusias mendorong operator untuk ikut dalam proyek balon internet itu, tetapi dianggap tidak peduli terhadap proyek serupa dari rakyat.

Meski dibilang serupa, proyek rakyat yang dimaksudnya sebenarnya bukan berbentuk balon. Hanya, fungsinya sama, yaitu solusi untuk mengantarkan gelombang akses telekomunikasi ke wilayah-wilayah terpencil Indonesia.

Menurut Onno, proyek rakyat yang dikenal sebagai Open Base Transceiver Station (OpenBTS) itu sudah lama berjalan, bahkan sudah terbukti. Di pedalaman Papua, OpenBTS sudah dipakai selama dua tahun.

oik yusuf/ kompas.com Pakar IT Onno W. Purbo saat meresmikan Onno Center dalam acara di Jakarta, Kamis (28/8/2014)

OpenBTS dinilai sebagai alternatif bagi BTS konvensional yang biasa digunakan operator karena modal pembuatannya lebih murah. Misalnya, bila satu BTS operator bisa mencapai Rp 1,5 miliar, OpenBTS hanya butuh modal sekitar Rp 120 juta untuk jangkauan lima kilometer.

"(Untuk daerah terpencil), alternatif yang lebih feasible dan sudah dicoba lebih dari dua tahun di Papua adalah OpenBTS. Bisa kita buat sendiri di Indonesia. Mudah dan murah," kata Onno saat dihubungi KompasTekno, Kamis (29/10/2015).

Solusi alternatif tersebut, menurut dia, sudah ditunjukkan kepada jajaran direktur jenderal serta direktur di Kementerian Komunikasi dan Informatika. Bahkan, hal ini sudah disampaikan juga kepada menteri, tetapi tidak mendapat tanggapan.

"Ya dicuekin. Mungkin karena ini rakyat biasa yang mengajukan, bukan corporate besar seperti Google. Yang penting ya niat. Niatnya (pemerintah) mau pro-rakyat atau enggak. Sudah, itu saja," pungkas Onno.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Executive Director ICT Watch Donny BU juga menyoroti keputusan pemerintah untuk mendukung uji coba balon internet Google tersebut. Perkaranya, ia merasa pemerintah tidak adil dalam memberikan kesempatan.

Teknologi Project Loon milik Google langsung mendapat sanjungan dan bisa bekerja sama menggunakan frekuensi tertentu. Sementara itu, OpenBTS yang sudah didemokan kepada pemerintah dijanjikan mendapat kesempatan, bahkan sudah beberapa tahun dipakai di Papua, tetapi tidak digubris, dan malah dianggap melanggar regulasi frekuensi.

"Bendanya dan bahkan pembuat openBTS sdh didemokan kok ke @kemkominfo bareng @onnowpurbo. Gak minta duit, cuma minta kebijakan frekuensi saja," kicau Donny melalui akun Twitter miliknya.

"Upaya teknologi OpenBTS sebagai penyediaan alternatif telekomunikasi di daerah terisolir, terhambat karena dilarang keras gunakan frekuensi 900 MHz," imbuhnya.

Sementara itu, tiga operator yang sepakat mendukung Project Loon sudah mengumumkan akan meminjamkan frekuensi 900 MHz untuk balon internet Google.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.