Sikap Indonesia, antara Google Loon dan OpenBTS

Kompas.com - 09/11/2015, 13:27 WIB
Balon Google bagian dari proyek Google Loon dipastikan akan terbang ke Indonesia untuk menyebarkan internet di daerah pelosok yang sulit terjangkau infrastruktur operator telekomunikasi. Wicak Hidayat/KOMPAS.comBalon Google bagian dari proyek Google Loon dipastikan akan terbang ke Indonesia untuk menyebarkan internet di daerah pelosok yang sulit terjangkau infrastruktur operator telekomunikasi.
EditorReza Wahyudi

Keberadaan open BTS, ungkap Agung, memang seolah mampu menjawab kebergantungan penyelenggara jaringan dan jasa telekomunikasi terhadap vendor raksasa. Anggapan yang sering muncul adalah pengembangan OpenBTS itu murah dan bisa dilakukan komunitas.

Padahal, banyak hal yang perlu disiapkan, antara lain regulasi, investasi, kesiapan pengelolaan sumber daya manusia, infrastruktur, standardisasi, dan sertifikasi alat. Belum lagi soal kesiapan perangkat komunikasi yang dipunyai masyarakat.

"Komponen dasar sistem OpenBTS memang sederhana sehingga dapat digunakan di daerah-daerah terpencil dan minim listrik. Meski begitu, perlu ada komponen yang berstandar teknologi jika ingin dikomersialkan," kata Agung.

Menanggapi seruan dari praktisi internet tersebut, komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), I Ketut Prihadi, mengungkapkan, pihaknya masih menunggu permohonan izin uji coba proyek Google Loon dari tiga operator, yakni PT XL Axiata Tbk, PT Telekomunikasi Selular, dan PT Indosat Tbk.

"Google sendiri sebenarnya telah mempresentasikan proyek Google Loon kepada kami dan Kementerian Komunikasi dan Informatika sebelum proses tanda tangan uji coba dilakukan. Sikap BRTI jelas. Teknis kerja Google Loon menggunakan frekuensi milik operator, jadi para perusahaan telekomunikasi itulah yang harus mengurus izin uji coba," ujar Ketut kepada Kompas, Senin (2/11), di Jakarta.

Dari segi peruntukannya, dia mengatakan, Google Loon akan melakukan uji coba melayani layanan jasa telekomunikasi, seperti internet, di daerah-daerah terpencil di mana belum tersambung BTS.

"Baik OpenBTS milik lokal maupun Google Loon, saya rasa, mereka harus memiliki konsep bisnis yang jelas jika ingin dikomersialkan. Mereka harus menyusun model bisnis bersama operator telekomunikasi seluler dan jaringan. Jika dulu OpenBTS milik lokal gagal dikembangbiakkan, saya pikir itu disebabkan mereka belum menyepakati model bisnis bersama operator," tutur Ketut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara yang ditemui Kompas, seusai pengumuman pabrikasi Lenovo di Indonesia, Rabu (4/11) malam, menegaskan, pemerintah terbuka kepada semua perkembangan teknologi pemancar, baik yang dikembangkan lokal maupun perusahaan global. Tidak ada perlakuan tidak adil seperti yang dituduhkan sejumlah praktisi internet.

Dia menjelaskan, pemerintah tidak akan menerbitkan regulasi terkait hal itu. "Silakan saja Ericsson, Google, dan Facebook mengembangkan teknologi pemancar. Begitu pula dengan komunitas lokal. Kami tidak memberikan izin mereka sebagai penyelenggara jaringan dan jasa telekomunikasi. Mereka harus bekerja sama dengan operator telekomunikasi seluler dan jaringan," tegas Rudiantara.

Oleh karena itu, senada dengan BRTI, para penyedia teknologi BTS wajib menjalin bisnis dengan operator jika ingin terjun ke komersial. (Mediana/Kompas)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.