Dikritik, 2 Fitur Facebook yang Merespons Teror di Paris

Kompas.com - 16/11/2015, 13:24 WIB
Mark Zuckerberg menambah foto profilnya dengan bendera Perancis sebagai bentuk empati terhadap insiden di Paris yang terjadi pada 13 November 2015. FacebookMark Zuckerberg menambah foto profilnya dengan bendera Perancis sebagai bentuk empati terhadap insiden di Paris yang terjadi pada 13 November 2015.
|
EditorReza Wahyudi

KOMPAS.com — Penyerangan di Paris, Jumat (13/11/2015) malam pekan lalu, menewaskan lebih dari 150 orang. Insiden itu menyentuh empati para perusahaan teknologi, termasuk Facebook.

Jejaring sosial tersebut kembali mengaktifkan fitur Safety Check untuk melacak korban.

Tak hanya itu, Facebook juga mengajak penggunanya membubuhi foto profil dengan filter bendera Perancis sebagai bentuk dukungan bagi para korban.

Namun, tindakan sosial Facebook malah mengundang kritik dari para netizen. Facebook dianggap memberlakukan standar ganda atas Perancis, Lebanon, dan Suriah, sebagaimana dilaporkan Cnet dan dihimpun KompasTekno.

Pasalnya, sehari sebelum insiden Paris, peristiwa bom bunuh diri terjadi di Beirut, Lebanon. Lebih dari 200 orang terluka dan 40 orang tewas dalam peristiwa tersebut. Suriah pun mendapat serangan dari jet tempur Rusia pada awal Oktober lalu.

Namun, Facebook dinilai tak peduli. "Safety Check" dan profil bendera tak terakomodasi untuk Lebanon dan Suriah. Netizen pun gusar.

"Saya berduka untuk Paris. Saya juga berduka untuk Suriah. Tolong sebar bendera Suriah juga untuk para korban terorisme," kata kolumnis ekonomi kawakan Edward Luce di akun Facebook-nya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Bendera yang bagus untuk Perancis. Namun, bagaimana saya bisa mengganti foto profil untuk menunjukkan solidaritas bagi saudara-saudara di Beirut?" kata pengguna akun @Aurora_Hyseni di Twitter.

"Kenapa tak ada Safety Check di Lebanon dan Suriah? Mungkin itu karena insiden di Lebanon dan Suriah sudah sering terjadi beberapa tahun terakhir. Atau karena mereka bukan orang Barat. Ini bentuk kemanusiaan yang pilih kasih," kata Amru Salahuddien pada laman Facebook-nya.

"Status aman Facebook membuatmu tahu keadaan teman. Namun, itu hanya di Paris, bukan di Baghdad, Damaskus, Gaza, atau Beirut," kata pengguna akun Twitter @Sari_AlKhalili.

Dikepung kritik, pendiri sekaligus CEO Facebook, Mark Zuckerberg, pun angkat bicara. "Kau benar bahwa banyak konflik penting di dunia. Kami peduli pada semua manusia. Kami akan bekerja keras untuk membantu semua orang yang sedang menderita untuk situasi-situasi ini," kata dia.

Zuckerberg pun berjanji akan memboyong Safety Check ke semua wilayah konflik untuk mempermudah akses komunikasi para korban.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber CNET

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.