"Lokananta", Riwayatmu Mengalir Sampai Jauh...

Kompas.com - 18/11/2015, 23:31 WIB
Rol pita master rekaman di sebuah tembok lobi Gedung Lokananta, Solo, Jawa Tengah. Kompas.com/Wahyu Adityo ProdjoRol pita master rekaman di sebuah tembok lobi Gedung Lokananta, Solo, Jawa Tengah.
|
EditorSri Noviyanti

Musisi legendaris yang terkenal dengan ciptaan lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama, Raden Maladi, menjadi penggagas namanya, berdasarkan filosofi dari dunia pewayangan. Lokananta punya arti gamelan dari khayangan yang bersuara merdu. 

Asa pada teknologi


Adalah teknologi digital dan kemudian menyebar luas lewat internet, asa bagi kelanjutan Lokananta. Lagi-lagi ada sosok anak muda di sana. Salah satu dari mereka adalah David Tarigan dari Irama Nusantara. Sekelompok anak muda tersebut memulai gerakan sosial berlandaskan kesadaran tentang pengarsipan dan pelestarian data musik populer Indonesia.

"Kami ingin melestarikan karya-karya musik asli Indonesia yang semakin sulit dicari. Dengan adanya pengarsipan ini masyarakat Indonesia akan dengan mudah menemukannya. Selain itu kami ingin masyarakat Indonesia saat ini tahu seperti apa perkembangan dunia permusikan di Indonesia, sehingga mereka bisa lebih menghargainya," ungkap David dari Irama Nusantara. 

Mula-mula, Irama Nusantara mengumpulkan data dan mendata semua rekaman fisik musik populer. Tak terkecualikan adalah semua informasi terkait sang artis hingga perusahaan rekamannya.

Seluruh data tersebut kemudian diubah menjadi data digital yang diunggah ke situs mereka, iramanusantara.org. Rencananya, mereka bakal melanjutkan proyek ini dengan membangun sentra media berisi diorama, perpustakaan musik, kafe, studio, sekaligus auditorium. 

“Kami beri servis bagi siapa pun yang butuh data-data tersebut,” kata David, dalam cuplikan video yang diunggah di situs indonesiadigitalnation.com. “(Untuk) anak muda yang ingin tahu tentang musik populer Indonesia, orang tua yang ingin nostalgia, bahkan kami sendiri karena kami suka,” lanjut dia. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

David mengatakan, proses pengumpulan piringan hitam, termasuk dari Lokananta, tidaklah mudah. “Sulit didapat, nyaris punah bahkan,” ujar dia. Dari satu per satu keping piringan hitam yang didapat itu, lanjut dia, Irama Nusantara pindahkan ke format digital, untuk kemudian diunggah ke situs mereka dan bisa diakses dari seluruh belahan bumi. “Ini konsep gila,” aku dia.

Setidaknya, asa David bertaut pada sekelompok anak muda yang lain. Pada 2012, misalnya, berlangsung festival untuk menghidupkan kembali cikal-bakal industri musik Indonesia ini, Festival Lokananta. Bersama festival  yang menghadirkan dua panggung bersamaan tersebut, digelar pula workshop rekaman, pameran foto konser, dan pemutaran film dokumenter musik.

Seperti dikutip Antara pada saat itu, Ketua Penyelenggara Festival Lokananta, Stefanus Aji, menyatakan artis papan atas pada masanya mulai Bing Slamet dan Lilis Suryani, hingga dalang Ki Narto Sabdo dan pelawak Basyo pernah meninggalkan jejak suara di antara lantai dan langit-langit Lokananta.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X