Kompas.com - 27/11/2015, 10:42 WIB
Helikopter AgustaWestland AW101 yang akan dibeli TNI Angkatan Udara untuk pesawat kepresidenan. agustawestland.comHelikopter AgustaWestland AW101 yang akan dibeli TNI Angkatan Udara untuk pesawat kepresidenan.
|
EditorReza Wahyudi

AgustaWestland AW101 saat itu dipilih pemerintah AS sebagai pengganti Marine One sekarang. AW101 dimodifikasi dan dikembangkan bersamaan dengan Lockheed Martin dan Bell Helicopter asal AS, menjadi VH-71 Kestrel.

Namun pada akhirnya rencana tersebut harus berhenti di tengah jalan karena pada 2009 pihak parlemen AS menilai pengembangan AW101 menjadi VH-71 Kestrel butuh baya yang besar.

Belakangan, pemerintah AS menggandeng pabrikan Sikorsky untuk membuat Marine One yang baru bersama dengan Lockheed Martin, berbasis Sikorsky S-92. Marine One baru tersebut rencananya mulai dioperasikan pada 2020 mendatang.

Sebenarnya pengadaan AgustaWestland AW101 untuk Indonesia sama halnya dengan pengadaan-pengadaan alutsista TNI sebelum-sebelumnya. Yang menjadi istimewa kali ini alutsista tersebut juga berperan sebagai alat transportasi Presiden.

Di samping itu, saat ini sudah ada helikopter sejenis AW101 yang ternyata sudah dirakit di dalam negeri, yaitu EC725 Caracal (juga disebut Super Cougar) yang dirakit oleh PT Dirgantara Idonesia (PT DI) di bawah lisensi dari Airbus Helicopter.

Helikopter itu pun sudah dioperasikan oleh TNI AU, hanya peruntukannya yang berbeda, yaitu sebagai Combat SAR. Dengan demikian, kru yang terlatih baik dari pilot, mekanik hingga fasilitas pendukungnya sudah ada.

Tinggal dikonversi saja menjadi helikopter VVIP dengan persyaratan yang ditentukan, seperti kevlar penahan peluru, pengecoh misil, radar jamming, dan sebagainya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan demikian, pengadaan alutsista tersebut sesuai dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Dimana di Pasal 43 butir (1) disebutkan bahwa pengguna wajib mengunakan Alat Pertahanan dan Keamanan produksi dalam negeri.

Bukankah lebih baik jika TNI AU mengoperasikan helikopter yang sejenis, sehingga bisa menghemat anggaran pelatihan, suku cadang, dan fasilitas pendukung lainnya karena sudah ada.

Terlepas dari polemik tersebut, TNI AU sudah yakin dengan keputusannya untuk memboyong helikopter dengan julukan "Merlin" tadi sebagai heli angkut kepresidenan.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.