Pantau Banjir dengan Twitter dan PetaJakarta - Kompas.com

Pantau Banjir dengan Twitter dan PetaJakarta

Kompas.com - 17/12/2015, 08:26 WIB
PetaJakarta.org Halaman depan situs PetaJakarta.org
KOMPAS.com - Memasuki musim hujan, Twitter menghimbau kepada penggunanya di Indonesia untuk melaporkan banjir melalui jejaring sosialnya, dengan menggunakan tagar #banjir.

Selain itu, pengguna Twitter juga bisa me-mention akun Twitter Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, @BPBDJakarta dan PetaJakarta (@ petajakarta) agar segera diketahui pihak terkait dan diambil tidakannya.

Adapun wilayah-wilayah di Jakarta yang dilaporkan terdampak banjir bisa diketahui melalui situs PetaJakarta.org.

“Platform gratis dan bersifat open-source ini kami sebut sebagai geosocial intelligence engineering," ujar Dr. Tomas Holderness, Co-Director, PetaJakarta dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTekno, Rabu (16/12/2015).

Dijelaskan Thomas, teknologi tersebut bisa mengubah Tweet dengan geo-tag menjadi data penting yang bisa digunakan penduduk Indonesia dan pemerintah untuk melakukan identifikasi, navigasi, serta memberi respon lebih cepat terhadap bencana banjir.

Sementara Country Business Head, Twitter Indonesia, Roy Simangunsong mengatakan, “Twitter hadir sebagai platform komunikasi real-time yang telah terbukti bermanfaat dalam berbagai kondisi darurat."

PetaJakarta merupakan bentuk kolaborasi yang baik antara pemerintah, pihak swasta, serta institusi non-profit dalam menggunakan platform kami sebagai bagian dari public safety," imbuh Roy.

Peta Jakarta sendiri telah disempurnakan dengan versi 2.0. Versi terbaru ini memiliki tambahan dan perbaikan fitur yang dapat mempermudah pengguna untuk aktif melaporkan banjir, sekaligus membantu pemerintah daerah dalam menggunakan informasi real-time tersebut guna menangani banjir.

Tahun lalu, inisiatif yang sama juga telah dilakukan oleh Twitter dan Peta Jakarta, hasilnya terdapat 25.000 Tweet laporan yang masuk.

Tahun ini, inisiatif pelaporan banjir melalui Twitter juga didukung oleh SMART Infrastructure Facility dari Universitas Wollongong, New South Wales, Australia.


EditorOik Yusuf

Close Ads X