Kunci Sukses Usaha Itu Data, Bukan Upah Murah Pekerja!

Kompas.com - 24/02/2016, 07:07 WIB
Kesuksesan para pabrikan pun tak melulu harus dicapai dengan menerapkan sistem upah serendah-rendahnya untuk produk yang mereka jual mahal di pasar global. THINKSTOCKPHOTOSKesuksesan para pabrikan pun tak melulu harus dicapai dengan menerapkan sistem upah serendah-rendahnya untuk produk yang mereka jual mahal di pasar global.
|
EditorLatief


KOMPAS.com
– Hari itu, Rabu (24/4/2013), tak kurang dari 3.600 pekerja di Rana Plaza, Dhaka, Banglades, bekerja dengan rasa was-was. Sehari sebelumnya, dinding pabrik yang merupakan markas produksi lima perusahaan garmen ini retak, cukup besar untuk membuat orang ngeri bila melihatnya.

Tapi, apa daya, demi sesuap nasi mereka harus menepis kekhawatiran itu dan rutinitas kerja mesti berjalan seperti biasa. Sampai akhirnya, pada pukul 08.45 waktu setempat, kekhawatiran mereka menjadi kenyataan.

Diawali listrik yang mendadak padam, getaran terasa kuat di seluruh bangunan. Lalu, dalam hitungan detik gedung delapan lantai itu luluh lantak.

Pada hari itu, tak kurang 1.000 pekerja di Rana Plaza tewas dan ribuan lainnya terluka. Butuh waktu lebih dari dua pekan untuk menemukan jasad korban tewas maupun mengevakuasi mereka yang terluka dari balik reruntuhan.

Robohnya pabrik di Dhaka itu sempat menjadi pemberitaan yang mendunia. (Baca: Korban Tewas Rana Plaza Banglades Tembus 1.126 orang). Kasus itu menjadi lebih mencuat karena pabrik yang hancur lebur merupakan salah satu lini produksi untuk produk pakaian bermerek, sementara para buruh dibayar teramat murah dengan konstruksi pabrik yang tak layak pula.

Jalan sukses tak tunggal

Tanpa kita sadari, musibah ini menjadi "harga" yang perlu dibayar untuk membeli produk-produk diskon di mal-mal. Demi mengejar konsumsi fashion dunia, biaya produksi ditekan sedemikian rendah sehingga acap mengorbankan kesejahteraan dan keselamatan pekerja.

Belum lagi muntahan limbah pabrik juga turut merusak alam. Padahal, sekarang konsumen sudah lebih jeli dan peduli dari mana barang belanjaannya berasal. Kesuksesan para pabrikan pun tak melulu harus dicapai dengan menerapkan sistem upah serendah-rendahnya untuk produk yang mereka jual mahal di pasar global.

Salah satu brand kecantikan global, misalnya, menyebar di 61 negara dengan 2.500-an gerai justru karena produk mereka berbasis ramah lingkungan dan buruhnya—termasuk pekerja imigran di Inggris—mendapat upah mencukupi. Bahan baku produk tersebut dipasok petani lokal dari negara-negara ekonomi berkembang.

Strategi tersebut mereka kembangkan ketika pabrikan lain semata menggaungkan kualitas. Belakangan, kesuksesan merek itu justru berangkat dari kisah dan value yang dianut perusahaan asal Inggris ini.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X