Kompas.com - 26/02/2016, 13:00 WIB
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReza Wahyudi

Pengiriman data dari aplikasi client ke server dilakukan secara otomatis. Apabila ditemukan spam dengan sumber atau gaya penulisan baru yang tidak ada di basis data, aplikasi akan mengirim langsung informasi pembaruan ke server. Nomor penerima SMS tidak disertakan untuk menjaga privasi. Isi pesan juga hanya bisa dibuka dan dianalisis oleh program AI (artificial intelligence) yang tertanam di server.

Cara pemblokiran spam seperti ini diklaim meningkatkan tingkat sukses pemblokiran spam sehingga bisa melewati aplikasi anti-spam mlik Google sekalipun. Tentu, pengguna bisa memilih agar meloloskan SMS dari pihak tertentu yang memang dikehendaki.

Clean Messaging juga disebut cukup pintar untuk membiarkan SMS yang memang mengandung informasi penting serta memblokir SMS spam, meski keduanya berasal dari pihak yang sama, misalnya info transaksi dan promo dari bank.

Medium SMS sengaja dipilih karena dinilai sebagai sarana yang paling efektif dipakai untuk menyebarkan spam ke ponsel. "Kalau lewat aplikasi instant messenger seperti WhatsApp atau Line, menyebarkan spam akan sulit krena ponsel target penerima belum tentu terpasang aplikasi yang bersangkutan," ujar Ari menjelaskan alasannya.

Ia juga berniat menanamkan fitur identifikasi penelepon ala WhosCall di Clean Messaging agar bukan cuma SMS Spam saja yang bisa diblokir, namun juga telepon dari pihak yang tak diinginkan

Clean Messaging sendiri kini baru tersedia untuk platform Android melalui Google Play Store karena Apple (iOS) tak mengizinkan SMS pengguna diutak-atik. Ari mencatat aplikasinya telah dipakai oleh 20.000 pengguna yang sebagian besar berasal dari Indonesia.

Monetisasi sejauh ini dilakukan lewat penayangan iklan dan menyediakan versi berbayar yang bebas iklan. Meski mengaku belum memiliki rekanan, Ari dan Anton berharap bisa merangkul para operator telekomunikasi di dunia internasional.

"Target kami bemitra dengan 80 operator, atau kurang lebih 10 persen dari jumlah operator seluler di seluruh dunia. Kalau tercapai, itu sudah bagus," pungkas Ari.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.