Bukan Cuma Uber dan Grab, Ini "Perusak" Industri Lainnya

Kompas.com - 24/03/2016, 10:04 WIB
Tampilan fitur Instant Article di layar ponsel sebelah kiri dan fitur Accelerated Mobile Pages (AMP) ada di layar ponsel sebelah kanan, Rabu (16/3/2016). Baik Facebook maupun Google mengincar media daring untuk menghadirkan konten lebih cepat kepada pengguna perangkat mobile. KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJOTampilan fitur Instant Article di layar ponsel sebelah kiri dan fitur Accelerated Mobile Pages (AMP) ada di layar ponsel sebelah kanan, Rabu (16/3/2016). Baik Facebook maupun Google mengincar media daring untuk menghadirkan konten lebih cepat kepada pengguna perangkat mobile.
|
EditorReska K. Nistanto

Facebook

Facebook adalah jejaring sosial dengan 1 miliar pengguna aktif setiap harinya. Politikus, sutradara, artis, jurnalis, para opinion leaders, hingga masyarakat umum, bergabung di platform tersebut.

Mereka membagi pengalaman saat melihat atau merasakan sesuatu lewat unggahan berbasis teks, foto, maupun video. Kontennya beragam, mulai dari yang bersifat personal (galau kerjaan, galau percintaan, dan lainnya), hingga peristiwa masif (bencana alam, aksi terorisme, atau kecelakaan).

Karenanya media sosial unggul dalam kecepatan informasi dibandingkan media massa. Sifatnya lebih real-time, pengguna pun lebih fleksibel untuk saling berkomentar.

Tapi ada satu hal yang kurang dari media sosial dan masih jadi kemewahan organisasi media, yakni verifikasi. Begitu banyak kabar berseliweran di Facebook tanpa ada jaminan kebenaran karena semua orang bisa bicara.

Melihat celah ini, Facebook membuat Instant Article (IA) pada pertengahan 2015 lalu. Menggandeng organisasi media arus utama, IA tak ubahnya pengepul konten berita yang sudah melewati tahap verifikasi. Dengan adanya IA, tak ada alasan netizen beranjak dari Facebook.Ingin tahu kabar teman? Lihat Facebook. Ingin tahu berita terkini yang disajikan berbagai media massa? Lihat Facebook. Padahal, sama seperti Uber yang tak punya mobil, Facebook pun tak membuat konten apapun.

AirBnB

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

AirBnB yang merupakan akronim dari Air Bed and Breakfast, juga sama merusaknya bagi industri perhotelan. Layanan berbentuk situs dan aplikasi tersebut memediasi kepentingan penyedia kamar dan orang yang butuh kamar menginap.

Misalnya orang A punya kamar kosong di rumah atau apartemen. Ia cukup menawarkan kamar tersebut via AirBnB ke para pelesir yang butuh tempat menginap bertarif rendah.

Airbnb Situs Airbnb

Jika ada yang tertarik, orang A bakal dapat pemasukan tambahan. Jika tidak, orang A pun tak rugi. Sebab, orang A tak seperti pengusaha hotel yang harus bayar resepsionis, cleaning service, serta mengeluarkan ongkos pemeliharaan hotel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X