Kompas.com - 30/03/2016, 10:18 WIB
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReza Wahyudi

Berbeda dari manusia, Tay tak mampu (atau belum mampu) membaca konteks percakapan, atau membedakan mana fakta dan mana yang hanya opini pribadi.

“Jadinya tak berbeda dari burung kakaktua yang belajar kata-kata buruk, lalu mengucapkannya kembali tanpa benar-benar tahu apa artinya,” ujar Rosenberg.

Belajar memaki

Kejadian di atas sebenarnya bukan kali pertama sebuah AI belajar hal-hal buruk yang membuatnya berkelakuan ngawur.

Bertahun-tahun sebelumnya, pada 2011, peneliti IBM bernama Eric Brown pernah mencoba untuk mengajari perbendaharaan kata-kata slang kepada Watson, sebuah superkomputer IBM yang dikenal mampu mengalahkan manusia dalam game "Jeopardy".

Menggunakan Urban Dictionary sebagai sumbernya, Brown berharap Watson bisa lebih “manusiawi” apabila ia mampu mempelajari kompleksitas bahasa orang.

Hasilnya, Watson justru berubah menjadi komputer “kurang ajar” yang banyak memaki dalam interaksinya dengan para peneliti. Sebuah pertanyaan yang diajukan kepadanya malah sempat dimentahkan dengan seruan “omong kosong”!

Sang superkomputer rupanya menggunakan kata-kata kasar dari Urban Dictionary dan memakainya tanpa rasa bersalah. Memang, seperti Tay, Watson juga tak paham konsep sopan santun.

Para peneliti IBM akhirnya terpaksa menghapus perbendaharaan kata Urban Dictionary dari memori Watson. Ia juga dipasangi sebuah filter khusus agar tak lagi memaki-maki di masa depan.

Bagaimana dengan Tay? Microsoft mengatakan AI tersebut untuk sementara dinonaktifkan dan bakal “diatur” sebelum dilepas lagi ke jagat maya.

Entah kapan Tay akan kembali menyapa pengguna Twitter. Tak jelas pula seperti apa kepribadiannya nanti. Dilihat dari kiprah Tay dan Watson, agaknya masih butuh waktu lama sebelum artificial intelligence bisa mengikuti dinamika dan kompleksitas komunikasi manusia yang selalu berubah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.