Google: Orang Indonesia Cuma "Download" Itu-itu Saja

Kompas.com - 01/04/2016, 14:18 WIB
Head of Marketing Google Indonesia Veronica Utami, Kamis (31/3/2016) dalam acara GoogleHead of Marketing Google Indonesia Veronica Utami, Kamis (31/3/2016) dalam acara "Google for Mobile", di Ballroom Hotel Sheraton, Mal Gandaria City, Jakarta.
|
EditorReza Wahyudi

JAKARTA, KOMPAS.com - Penetrasi internet mobile di Indonesia meningkat signifikan sejak 2013 lalu. Dari total 88 juta warga maya, 64 juta di antaranya terkoneksi via smartphone dan tablet.

Artinya ada ruang yang luas untuk mengembangkan aplikasi mobile. Apalagi, dengan kehadiran 4G LTE, pengalaman menjajal berbagai jenis aplikasi seharusnya makin lancar.

Ironisnya, adopsi aplikasi mobile masih terhitung minim. Temuan Google menyebutkan rata-rata pengguna smartphone di Indonesia hanya mengunduh 30 aplikasi untuk memudahkan kehidupan sehari-hari.

Itu juga didominasi aplikasi buatan asing. Semisal WhatsApp, Instagram, Facebook, atau Line. Satu-satunya aplikasi lokal yang sama populer dengan jejeran aplikasi asing tersebut adalah Go-Jek.

Jika dibandingkan Singapura dan Korea Selatan, para pengguna smartphone di sana rata-rata sudah mengunduh 45 hingga 60 aplikasi.

Ada apa gerangan?

Menurut Head of Marketing Google Indonesia Veronica Utami, pengguna smartphone di Indonesia belum merasa perlu mengunduh beragam jenis aplikasi.

"Mereka belum menganggap aplikasi bisa memudahkan kehidupan sehari-hari. Makanya yang diunduh rata-rata itu-itu saja (WhatsApp dkk)," kata dia, Kamis (31/3/2016) di sela-sela acara "Google for Mobile" di Ballroom Hotel Sheraton, Mal Gandaria City, Jakarta.

Itulah yang menjadi tantangan para pengembang aplikasi alias mobile developer. Dalam konteks lokal, pengembang lokal seharusnya mampu menangkap problem lokal untuk kemudian dicarikan solusinya melalui aplikasi.

Go-Jek adalah salah satu aplikasi lokal yang perannya kuat karena solusinya tepat untuk menumpas masalah masyarakat Indonesia.

Selain konsep aplikasi, ada beberapa hal teknis yang menurut Veronica perlu dipikirkan dengan serius oleh para developer. Antara lain terkait ukuran dan konsumsi data aplikasi.

"Jangan sampai menelan memori dan data terlalu besar. Karena smartphone murah yang banyak beredar belum tentu menyediakan ruang memori yang banyak," kata dia.

"Aplikasi yang boros data juga bikin orang pikir dua kali untuk menggunakannya," ia menambahkan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X