Kompas.com - 10/04/2016, 15:18 WIB
Ilustrasi Facebook mobile istIlustrasi Facebook mobile
Penulis Oik Yusuf
|
EditorDeliusno


KOMPAS.com - Facebook ternyata tak hanya marak dipakai untuk menjual makanan atau pakaian, namun juga senjata. Jenisnya bisa macam-macam, mulai pistol revolver sampai peluncur granat, dan rudal anti-pesawat.

Aneka barang berbahaya itu dijual di daerah Timur Tengah yang rawan konflik, seperti wilayah Libya dan Irak, menurut laporan Armament Research Services (ARES) yang dirangkum KompasTekno dari The Guardian, Minggu (10/4/2016).

Awal minggu lalu, The New York Times melaporkan ke pihak Facebook, tujuh akun grup yang terindikasi melakukan perdagangan senjata. Pengelola jejaring sosial itu segera menutup enam di antaranya, kecuali satu yang tidak melakukan aktivitas perdagangan.

“Semua yang melanggar standar Facebook dan diberitahukan ke kami telah dihapus begitu kami melihat laporan bersangkutan,” sebut seorang juru bicara Facebook.

Para penjual dan pembeli senjata bersembunyi di balik grup Facebook yang tertutup. Di sana terpajang foto-foto senjata yang berfungsi sebagai iklan baris, tak ubahnya etalase toko di mana barang dagangan bisa dilihat-lihat oleh calon peminat.

Saat menemukan barang incaran, calon pembeli bisa menghubungi penjual lewat pesan pribadi atau telepon. Cara ini lebih praktis ketimbang harus datang ke pasar gelap senjata yang memang sudah ada di wilayah-wilayah terkait.

The New York Times Salah satu akun Facebook yang memperdagangkan senjata api

Facebook sendiri tak terlibat dengan kegiatan dagang yang dilakukan pengguna. Namun, karena jangkauannya yang luas dan jumlah pengguna mencapai angka miliaran, jejaring sosial itu sering dimanfaatkan sebagai marketplace, layaknya forum jual beli.

Sebagian senjata yang dijual di Facebook merupakan barang produksi Soviet atau Rusia berasal dari gudang-gudang di Libya yang dijarah saat negara itu mulai dilanda konflik pada 2011. Tapi ada juga yang berasal dari negara lain seperti Inggris dan AS.

Pada Januari lalu, Facebook secara resmi melarang pengguna menjual senjata api di jejaring sosialnya untuk menekan transaksi barang berbahaya tersebut. Larangan serupa juga diterapkan di layanan photo sharing Instagram.

Namun, peredaran senjata api di Facebook masih sulit dikendalikan karena pihak pengelola belum secara proaktif menelusuri situsnya untuk mencari pelanggar. Jejaring sosial ini lebih banyak bergantung pada pengguna dalam hal tersebut.

“Mengkoordinasikan penjualan senjata api secara privat bertentangan dengan standar komunitas Facebook. Kami akan menghapus konten seperti itu saat mengetahuinya,” sebut Facebook dalam sebuah pernyataan.

“Kami mendorong pengguna untuk menggunakan tautan yang tersebar di situs kami untuk melaporkan pelanggaran, agar bisa segera ditindaklanjuti,” imbuh Facebook.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.