Bantu "Hacker" Retas Situs, Mantan Wartawan Reuters Dipenjara

Kompas.com - 15/04/2016, 11:11 WIB
Ilustrasi Anonymous YouTubeIlustrasi Anonymous
|
EditorReska K. Nistanto

KOMPAS.com — Matthew Keys, mantan editor di kantor berita Reuters, dinyatakan bersalah karena membantu kelompok peretas (hacker) Anonymous meretas situs berita The Los Angeles Times pada 2010 lalu. Akibatnya, pria itu harus mendekam di penjara selama dua tahun.

Keys yang pada tahun 2010 itu menjadi produser di stasiun TV KTXL Fox 40 terbukti menyerahkan username dan password yang dipakai untuk mengakses halaman content management system (CMS) milik situs berita The Los Angeles Times (LA Times) kepada Anonymous.

Baik KTXL Fox 40 maupun LA Times berada dalam satu manajemen yang sama, yaitu Tribune Company. Karena itulah, walau Keys bekerja sebagai produser TV, ia juga memiliki akses ke LA Times.

Informasi rahasia itulah yang kemudian dipakai hacker Anonymous untuk men-deface situs LA Times.

Oleh kelompok peretas Anonymous, username dan password CMS LA Times itu dipakai untuk mengubah sebuah artikel yang diterbitkan di situsnya. Usai peristiwa peretasan itu, Keys pindah kerja ke Reuters.

Keys dikenakan tuduhan melanggar Undang-Undang Penipuan dan Penyalahgunaan Komputer (Computer Fraud and Abuse Act) yang berlaku di Amerika Serikat.

Kasus Keys tersebut baru terungkap, dan mulai disidangkan pada 2013 lalu saat ia telah berganti pekerjaan menjadi social media editor di kantor berita Reuters. Kantor berita itu kemudian memecat Keys setelah tuntutan hukum dilayangkan.

Dilansir KompasTekno dari Cnet, Jumat (14/4/2016), Keys sempat berhadapan dengan tuntutan hukuman penjara 25 tahun. Namun, dia berupaya membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah hingga akhirnya hukumannya berkurang menjadi 2 tahun saja.

Kini, pria itu diminta untuk menyerahkan diri dan mulai menjalani hukuman penjara pada 15 Juni 2016.

"Kami memang tidak berharap dihukum penjara. Namun, melihat situasinya, sebenarnya bisa jadi lebih buruk lagi. Pengacara saya merasa, saya punya kesempatan mengajukan banding untuk menunda keputusan hukum itu, dan kami memang berniat mengajukannya," ujar Keys.

Keys juga mengunggah tulisan ke platform blog Medium. Isi tulisan tersebut berisi upaya untuk menegaskan bahwa dirinya tak bersalah. Menurut dia, mesti ada perbaikan pada sistem hukum karena alat hukum yang dipakai untuk menuntutnya saat ini adalah undang-undang yang sudah usang.

"Saya tidak bersalah, dan bukan saya yang memulai perseteruan ini. Saya berharap, usaha saya ini bersama Anda bisa memicu adanya perubahan yang lebih baik untuk undang-undang yang mengatur perilaku seseorang di dunia online," tulis Keys.

"Seperti yang sudah saya katakan, mestinya tak ada orang yang dipenjara dengan tuntutan terorisme hanya karena dia menyerahkan username dan password akun Netflix. Sayangnya, hukum yang ada saat ini bisa dipakai untuk mengajukan tuntutan jenis tersebut. Terserahlah," imbuhnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber CNET

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.