Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Wicak Hidayat

Penulis teknologi yang saat ini terjun bebas ke dunia startup digital. Ia aktif di Code Margonda bersama komunitas lainnya di Depok. Juga berperan sebagai Tukang Jamu di sebuah usaha rintisan bernama Lab Kinetic.

kolom

Silicon Valley, Sejak dalam Pikiran

Kompas.com - 26/04/2016, 11:23 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorReza Wahyudi

Silicon Valley bukan sekadar tempat, bahkan boleh dibilang Silicon Valley bukan sebuah tempat. Silicon Valley adalah pola pikir yang mendorong lahirnya ide. Silicon Valley adalah pola pikir yang melahirkan tindakan.

Dalam novel Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer menuliskan kalimat yang menggugah, kurang lebih bunyinya: bagi seorang terpelajar, adil itu sejak dalam pikiran apalagi perbuatan. Mungkin, bagi startup, ada baiknya menempatkan silicon valley itu sejak dalam pikiran, kemudian menjadi perbuatan.

Sebentar, perlu ditegaskan dulu di sini bahwa saya bukan sedang mengusung neo-liberalisme atau pemikiran kebarat-baratan. Maksud saya, harap disimak, ketika kita menganggap Silicon Valley sebagai sebuah panutan, kita harus tahu apa sebenarnya yang kita contoh.

Dalam hal ini, saya sungguh merasa bahwa startup di Indonesia jangan menjadikan Silicon Valley dalam arti geografis sebagai sebuah tujuan pamungkas. Boleh kok pergi ke sana, tapi harus jelas apa yang mau dicapai dan dibawa pulang (lebih dari sekadar kaos atau magnet).

Poin yang ingin saya tegaskan adalah: yang patut dicontoh dari Silicon Valley adalah pola pikirnya. Istilahnya, the silicon valley mindset.

Beberapa waktu lalu, Bobby Amiri dari GSV Labs sempat berkunjung ke Indonesia. Dari berbagai hal yang dikatakannya, ia sempat berujar bahwa Indonesia tidak perlu serta-merta meniru startup yang berhasil di luar sana. “Apa yang berhasil di sana, belum tentu berhasil di sini,” ia menegaskan.

Lebih penting, ujarnya, adalah memahami mengapa sesuatu itu dilahirkan. Semuanya dimulai dari masalah dan upaya untuk memecahkan masalah itu.

Kota Mengantuk, Tanpa Gedung Tinggi

Saya punya beberapa kesempatan untuk “berkunjung” ke SIlicon Valley. Kunjungan itu memang lebih cocok dianalogikan sebagai turis yang datang ke objek wisata, karena di sana saya belajar, mencatat dan merekam, namun saya tidak menjadi bagian dari lingkungan itu.

Ini berbeda dengan Andreas ‘Jay’ Senjaya, dari iGrow, yang sungguh-sungguh sedang menjadi bagian dari Silicon Valley. Ia mengikuti program inkubasi di 500 Startups, bersama perusahaan rintisan digital dari berbagai daerah di dunia. Pulang dari sana, Jay bisa bercerita dan berbagi lebih banyak daripada saya yang cuma “turis” ini.

Sebelum ke Silicon Valley sungguhan, ada imaji yang menetap di kepala saya soal wilayah itu. Misalnya, saya berpikir bahwa Silicon Valley adalah lokasi terpusat, yang mudah untuk dijangkau setiap sudutnya. Saya juga sempat mengira “lembah” itu dipenuhi bangunan-bangunan besar pencakar langit, dengan kaca berkilau atau beton-beton dingin.

Kenyataannya, wilayah-wilayah yang tergabung dalam area mitologis Silicon Valley itu lebih mirip Depok, Tangerang, atau Bekasi. Kota mengantuk yang sekilas tampak tak memiliki kegiatan, dengan jumlah gedung tinggi yang terbatas.

Bagian paling metropolis adalah San Francisco, itu pun jika dibandingkan kota, seperti New York atau Los Angeles agaknya akan tampak berbeda sekali. San Francisco terasa lebih hangat dan ramah daripada dua kota yang disebut belakangan.

Salah satu kunci keberhasilan Silicon Valley adalah Stanford. Kampus yang agaknya tidak berhenti pada mencetak sarjana atau doktor saja, tapi juga mencetak manusia. Kampus yang mungkin (ini asumsi saya) tidak sekadar jadi menara gading, tapi peduli dan bermakna untuk sekitarnya.

Harus diakui, saya menyimpan harapan pada Depok untuk bisa seperti itu. Kampus-kampus raksasa yang bersemayam di Depok harusnya bisa berpelukan dengan masyarakat di sekitarnya untuk melahirkan solusi.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com