Wicak Hidayat

Penulis teknologi yang saat ini terjun bebas ke dunia startup digital. Ia aktif di Code Margonda bersama komunitas lainnya di Depok. Juga berperan sebagai Tukang Jamu di sebuah usaha rintisan bernama Lab Kinetic.

kolom

Silicon Valley, Sejak dalam Pikiran

Kompas.com - 26/04/2016, 11:23 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorReza Wahyudi

Sebelum ke Silicon Valley sungguhan, ada imaji yang menetap di kepala saya soal wilayah itu. Misalnya, saya berpikir bahwa Silicon Valley adalah lokasi terpusat, yang mudah untuk dijangkau setiap sudutnya. Saya juga sempat mengira “lembah” itu dipenuhi bangunan-bangunan besar pencakar langit, dengan kaca berkilau atau beton-beton dingin.

Kenyataannya, wilayah-wilayah yang tergabung dalam area mitologis Silicon Valley itu lebih mirip Depok, Tangerang, atau Bekasi. Kota mengantuk yang sekilas tampak tak memiliki kegiatan, dengan jumlah gedung tinggi yang terbatas.

Bagian paling metropolis adalah San Francisco, itu pun jika dibandingkan kota, seperti New York atau Los Angeles agaknya akan tampak berbeda sekali. San Francisco terasa lebih hangat dan ramah daripada dua kota yang disebut belakangan.

Salah satu kunci keberhasilan Silicon Valley adalah Stanford. Kampus yang agaknya tidak berhenti pada mencetak sarjana atau doktor saja, tapi juga mencetak manusia. Kampus yang mungkin (ini asumsi saya) tidak sekadar jadi menara gading, tapi peduli dan bermakna untuk sekitarnya.

Harus diakui, saya menyimpan harapan pada Depok untuk bisa seperti itu. Kampus-kampus raksasa yang bersemayam di Depok harusnya bisa berpelukan dengan masyarakat di sekitarnya untuk melahirkan solusi.

Pola Pikir, Lagi-lagi Pola Pikir

Ah, sebelum saya mengigau lebih jauh soal Depok dan impian Silicon Valley, mari kembali ke soalan pola pikir tadi. Ada dua pola pikir yang rasanya patut untuk diadopsi segera: keberagaman dan berani gagal.

Keberagaman mengacu pada kecenderungan untuk memiliki latar belakang yang berbeda-beda dalam tim perusahaan rintisan digital. Adanya keberagaman memungkinkan sudut pandang yang berbeda-beda pula dalam mencari solusi masalah yang dihadapi. Hipster, hacker, and hustler bukan sekadar jargon sok asyik kok. Akarnya ada di pola pikir itu.

Berani gagal mengacu pada pola pikir bahwa dari setiap kegagalan ada peluang pembelajaran. Gagal tak perlu dicemooh, bahkan bisa dikenakan bagaikan sebuah lencana kebanggaan.

Oh ya, terkait hal ini juga, sebaiknya jangan lagi takut untuk berbagi ide atau ilmu. Ini penyakit yang lazim ditemui di dunia startup kita. Kadang kita takut membicarakan ide startup karena takut idenya dicuri orang.  

Coba pikirkan lagi, jangan-jangan sebenarnya kita takut gagal sebelum mulai, Takut dianggap punya ide yang buruk. Sekadar melempar ide ke orang lain saja tidak mau. Padahal, diskusi ide bisa jadi sarana awal menguji diterima atau tidaknya ide tersebut. Tentunya, jangan berhenti pada ide saja ya.

Lebih baik silicon valley sejak dalam pikiran daripada gagal sejak dalam pikiran. Ya kan?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.