Google dan Uber Desak Legalisasi Mobil Tanpa Sopir

Kompas.com - 28/04/2016, 07:04 WIB
Google Self-Driving Car MediumGoogle Self-Driving Car
|
EditorReska K. Nistanto

KOMPAS.com - Mobil tanpa awak alias self-driving car sudah menjadi bahasan lumrah. Vendor kawakan semacam BMW, Volvo, Mercedes Benz, dan Tesla Motors, telah memperkenalkan mobil pintar mereka masing-masing.

Tak hanya dari industri otomotif, pabrikan teknologi semacam Google dan Baidu pun ikut serta membuat mobil tak berpengemudi. Lantas, apa kendala untuk memasarkan produk-produk mereka secara komersil?

Seperti yang sudah-sudah, inovasi kerap bertentangan dengan aturan yang berlaku di tiap negara. Untuk itu, perlu ada payung hukum baru yang mengakomodir inovasi tersebut.

Atas dasar ini, lima perusahaan berkoalisi mendorong pemerintah Amerika Serikat agar segera mengeluarkan izin jalan bagi self-driving car, agar menjadi legal. Kelimanya adalah perusahaan induk Google, Alphabet, layanan ride-sharing Uber dan Lyft, serta vendor otomotif Ford dan Volvo.

"Kami akan bekerja dengan lembaga hukum, regulator, dan masyarakat, untuk mengaji keamanan dan manfaat sosial dari self-driving car," begitu pernyataan resmi koalisi, sebagaimana dilaporkan Reuters dan dihimpun KompasTekno, Kamis (28/4/2016).

Koalisi menunjuk mantan pejabat National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) Amerika Serikat, David Strickland, sebagai juru bicara. Menurut Strickland, koalisi hanya minta kejelasan pemerintah.

"Orang-orang ingin aturan yang jelas. Apa syarat yang dibutuhkan agar self-driving car bisa ada di jalanan," kata dia.

Koalisi pun membeberkan data 2014 yang menunjukkan ada lebih dari 32.000 kecelakaan fatal di jalanan AS selama setahun. Selain itu, ada 6,1 juta tabrakan mobil yang menyebabkan 2,3 juta korban luka-luka.

Menurut data, 94 persen dari total kecelakaan tersebut disebabkan kelalaian manusia. Dalam hal ini, self-driving car digadang-gadang sebagai solusi tepat mereduksi kelalaian tersebut.

Administrator NHTSA saat ini Mark Rosekind mengatakan, pembuat kebijakan tak boleh rancu dalam perumusan regulasi self-driving car.

Februari lalu, NHTSA menyebut sistem artificial intelligence yang berada di balik kemudi self-driving car milik Google dipertimbangkan sebagai sopir legal. Hal ini mengindikasikan restu NHTSA untuk mobil pintar.

Namun, palu dari pemerintah belum juga diketuk resmi. Koalisi masih terus melakukan upaya advokasi.



Sumber Reuters
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X