Apa Benar Go-Jek Kehabisan Uang?

Kompas.com - 03/05/2016, 15:49 WIB
CEO PT Go-Jek Indonesia Nadiem Makarim Kahfi Dirga Cahya/KOMPAS.comCEO PT Go-Jek Indonesia Nadiem Makarim
Penulis Reza Wahyudi
|
EditorDeliusno

KOMPAS.com — Perusahaan ride-sharing Go-Jek ramai diberitakan kehabisan uang dan tengah mencari investor baru sebagai penyumbang dana.

Kabar yang berasal dari pemberitaan kantor berita internasional Reuters tersebut dianggap oleh pihak Go-Jek sebagai interpretasi yang salah. Pihak Go-Jek menyatakan, pemberitaan bahwa perusahaan sedang mencari pendanaan atau kehabisan uang tidaklah benar.

Baca: Go-Jek Akui Kehabisan Uang gara-gara Tarif Murah

Dalam keterangan resmi yang diterima KompasTekno, Selasa (5/3/2016), CEO Go-Jek Nadiem Makarim mengatakan, Go-Jek saat ini tidak sedang mencari pendanaan baru.

"Saat ini, Go-Jek tidak sedang mencari investor. Namun, tentunya, kami selalu terbuka terhadap segala peluang untuk dapat memperkuat dan memperbesar bisnis kami," kata Nadiem.

Padahal, dalam berita yang dilansir pada Senin (2/5/2016), Reuters mencantumkan pernyataan Nadiem bahwa sudah ada sejumlah perusahaan modal ventura dan perusahaan investasi yang menaruh minat.

Kepada Reuters, Nadiem sempat mengatakan, pendanaan baru dari investor untuk mengembangkan pasar merupakan salah satu solusi.

Menurut pihak Go-Jek, pernyataan Nadiem tersebut sebenarnya diberikan dalam konteks perusahaan startup di seluruh dunia, termasuk Go-Jek, yang perlu mencari pendanaan baru supaya bisnisnya bisa tumbuh, bukan menunjukkan bahwa Go-Jek tengah membutuhkan dana segar dari investor.

Pernyataan yang disampaikan Nadiem kepada Reuters terkait pendanaan baru diklaim pihak Go-Jek tidak berhubungan dengan subsidi ataupun situasi keuangan perusahaan.

Terkait subsidi tarif, masih dalam berita Reuters yang sama, Nadiem mengatakan, "Kalau terus begitu (memberi subsidi), akhirnya Anda akan kehabisan uang."

Pernyataan ini sempat disimpulkan bahwa Go-Jek tengah kehabisan uang karena memberikan tarif murah.

Pernyataan Nadiem mengenai subsidi dalam berita tersebut, menurut pihak Go-Jek, diberikan dalam konteks memberikan contoh terhadap model bisnis yang tidak berkelanjutan.

Dengan demikian, dua pernyataan terkait pendanaan baru dalam konteks umum dari sebuah perusahaan startup dan soal subsidi merupakan dua pernyataan yang berbeda dan tidak berhubungan.

Saat ini, Go-Jek memiliki sekitar 200.000 pengemudi ojek. Perusahaan tersebut bersaing keras dengan Grab dan Uber demi menguasai pangsa pasar di Indonesia.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X