Reska K. Nistanto

Wartawan teknologi dan pehobi dunia penerbangan.

kolom

Turbulensi Pesawat Etihad Begitu Hebat, Mengapa Bisa Terjadi?

Kompas.com - 05/05/2016, 14:37 WIB
Lapisan Tropopause di antara Troposphere dan Stratosphere. istLapisan Tropopause di antara Troposphere dan Stratosphere.
EditorReza Wahyudi

Di level 4, atau yang termasuk dalam kategori ekstrim, turbulensi bisa menyebabkan pilot kehilangan kontrol, dan sulit untuk recovery.

Turbulensi tak terdeteksi

Kembali ke kasus Etihad EY474 dan Thai Airways TG434 di atas tadi, turbulensi yang terjadi dalam pesawat tersebut berdasar keterangan saksi penumpang, terjadi secara tiba-tiba.

"Enggak ada angin enggak ada apa, badan saya ini langsung ke angkat ke atas, kebanting berkali-kali, kepala kena atap sampai kayak mau bolong," kata Lita Herlita (42), salah seorang jemaah umroh sekaligus penumpang pesawat itu.

Keterangan penumpang itu bisa menjadi petunjuk atas peristiwa clear air turbulence (CAT), jenis turbulensi yang susah dideteksi dan terjadi secara tiba-tiba.

Baca: Penjelasan Etihad soal Turbulensi Sebelum Mendarat di Bandara Soekarno-Hatta

Turbulensi yang terjadi secara tiba-tiba biasanya terjadi di luar prediksi pilot. Ya, pilot di dalam kokpit bisa memprediksi apakah akan ada guncangan di depan dengan bantuan radar cuaca. Mereka bisa melihat gumpalan-gumpalan awan yang berpotensi menyebabkan turbulensi.

Biasanya, jika diizinkan oleh petugas pengendali lalu-lintas udara (ATC), mereka akan menghindari dengan meminta rute yang sedikit menyimpang, atau melompatinya.

Jika tidak bisa dihindari, maka terpaksa mereka akan menembus awan tersebut, dan mengingatkan awak kabin dan penumpang untuk duduk dan memakai sabuk pengaman.

Itulah sebabnya Anda sering diminta untuk duduk dan mengenakan sabuk pengaman meski penerbangan terasa biasa-biasa saja.

Namun, ada jenis turbulensi yang sama sekali tidak terdeteksi oleh radar cuaca, jenis turbulensi ini disebut dengan clear air turbulence (CAT), turbulensi yang terjadi dalam kondisi cerah. Secara visual, pilot tidak bisa mengidentifikasinya.

CAT sering terjadi di area Tropopause, ruang udara antara Troposhere dan Stratosphere, yaitu ketinggian antara 23.000 - 39.000 kaki (7.000 - 12.000 meter) di atas permukaan laut.

Lapisan Tropopause ini tidak konstan atau rata secara horisontal. Perubahan temperatur dan kecepatan angin yang bergerak di antaranya membuat ketinggian lapisan itu fluktuatif.

Sementara di sisi lain, pesawat udara terbang di ketinggian yang konstan dalam waktu yang lama. Pesawat membutuhkan kepadatan udara yang konstan agar bisa terbang dengan stabil.

Nah, saat memasuki area Tropopause yang ketinggian lapisannya fluktuatif itulah, CAT bisa terjadi.

Pesawat seperti tersedot dari ruang udara berkepadatan tinggi ke rendah, akibatnya ketinggian jelajah bisa anjlok.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.