Menurut BMKG, Ini Penyebab Dua Pesawat Kena Turbulensi Parah

Kompas.com - 08/05/2016, 21:00 WIB
Suasana evakuasi penumpang pesawat Hongkong Air, Sabtu (7/6/2016). Dok. UPT Pusdalops BPBD BaliSuasana evakuasi penumpang pesawat Hongkong Air, Sabtu (7/6/2016).
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReza Wahyudi

KOMPAS.com - Para penumpang pesawat Etihad Airways, nomor penerbangan EY -474 rute Abu Dhabi-Jakarta sedang bersantai usai makan siang pada Rabu (4/5/2016), sekitar 45 menit sebelum mendarat di Bandara Soekarno Hatta.

Sebagian besar dari mereka merupakan jemaah umrah yang hendak kembali ke Tanah Air. Saat itu banyak penumpang yang hendak menunaikan salat ataupun ke toilet. Tanpa disangka, tiba-tiba badan pesawat berguncang hebat. Situasi tenang berubah menjadi kacau.

Begitu kerasnya guncangan, para penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman terlempar ke atap dan mengalami luka-luka. Peristiwa ini terjadi selama lebih kurang 10 menit sebelum pesawat kembali stabil.

Etihad Airways EY-474 rupanya memasuki area turbulensi udara saat melintasi angkasa Indonesia. Turbulensi udara terjadi manakala pesawat memasuki ruangan udara yang memiliki tekanan berbeda-beda.

Perbedaan tekanan ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, misalnya perpindahan udara dari lokasi bersuhu panas ke dingin (atau sebaliknya), adanya aliran udara dengan kecepatan berbeda atau thermal lift di mana ruang udara memiliki suhu lebih panas dari sekeliling sehingga mengalir dari permukaan ke atas.

Turbulensi tingkat parah

Laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dikutip KompasTekno pada Minggu (5/4/2016) menyebutkan bahwa Etihad Airways EY-474 ketika itu diguncang oleh turbulensi di wilayah udara sekitar pulau Sumatera bagian selatan, di ketinggian 37.000 kaki (11.277 meter)

“Diindikasikan turbulensi tingkat severe/parah ini kombinasi dari gelombang dekat Pegununngan Bukit Barisan di Sumatera bagian selatan dan Awan CB (Cumulonimbus) di sekitar jalur penerbangan EY-474,” tulis BMKG dalam situsnya.

Pantauan satelit cuaca menunjukkan penumpukan uap air akibat gelombang dari gunung yang terdorong secara vertikal. Selain itu, awan CB pada daerah sekitar jalur penerbangan memicu interaksi yang menyebabkan gelombang tersebut pecah pada lapisan atas atmosfer.

Hal ini berujung pada turbulensi yang diperkirakan terjadi pada jalur jelajah Etihad Airways EY-474.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Perbedaan arah dan kecepatan angin (shear) vertikal di ketinggian 30.000-35.000 kaki, selatan Pulau Sumatera pada 4 Mei 2016, pukul 14.35 WIB. Semakin merah menunjukkan nilai shear semakin besar. Shear memicu terjadinya turbulensi

Turbulensi yang dialami oleh Etihad Airways EY-474 termasuk dalam tingkat 3, yakni severe (parah), dari skala intensitas turbulensi yang terdiri dari empat tingkatan.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X