kolom

Sebuah Radio, Kumatikan

Kompas.com - 10/05/2016, 11:17 WIB
Ditemani radio transistor. KOMPAS/INGKI RINALDIDitemani radio transistor.
EditorDeliusno

Perjalanan panjang, baik di kendaraan pribadi atau umum, memang lebih asik kalau ditemani musik. Di kereta Commuterline Jabodetabek, bukan hal istimewa lagi melihat penumpang dengan kabel terjuntai dari telinga mereka.

Sedangkan mobil pribadi di Jabodetabek mungkin sekarang ini adalah habitat paling subur untuk radio siaran. Pagi dan sore, saat macet menggiring manusia menjadi sakit jiwa, siaran radio jadi pereda dendam.

Begitu juga saya, dalam perjalanan mengantar anak sekolah, siaran radio tadinya adalah hiburan yang cukup menyenangkan. Garisbawahi kata “tadinya”, karena belakangan ini radio kami lebih sering mati.

Radio siaran adalah rezim, ia mendikte pendengarnya untuk mengikuti selera tertentu. Jika penyiarnya tiba-tiba membicarakan sesuatu yang tak pantas didengar anak-anak? Saya cuma bisa tersedak dan buru-buru beralih ke frekuensi lain.

Maka sudah cukup lama saya merasa, rezim ini perlu digantikan. Sudah bisa diduga, gantinya adalah streaming musik digital.

Layanan streaming menjanjikan pengalaman yang berbeda, karena pendengar bisa memilih sendiri apa yang mau didengarkannya. Ya, dulu itu dilayani CD, kaset atau pemutar musik digital, tapi karena sekarang katalognya ada “di awan” maka pilihannya nyaris tak terbatas.

“Hei, ingat lagu yang kita suka dengar di warnet itu? Dulu, sambil mengerjakan tugas kuliah,” celetuk saya pada pasangan, ceritanya mau nostalgia gila masa-masa pacaran.

Tak perlu lama, aplikasi streaming musik bisa menghadirkan lagu itu langsung di saat itu juga. Harapannya, bersama dengan itu hadir pula kenangan manis kesibukan mengerjakan tugas kuliah bersama-sama (dan bukan kenangan pahit saat menunggu sendirian di warnet berjam-jam untuk seseorang yang akhirnya tidak jadi datang).

Maka sekarang, rutinitas pagi di mobil adalah memasang smartphone ke kabel charger, menyalakan bluetooth dan mendengarkan lagu dari Bluetooth speaker. Ah, ya, radio mobil kami memang masih bawaan pabrik, bukan dari jenis yang bisa ditautkan via Bluetooth.

Teringat judul puisi Dorothea Rosa Herliany: Sebuah radio, kumatikan.  Dengan permohonan maaf sebesar-besarnya, judul itu terngiang menjadi: sebuah radio kumatikan, streaming kunyalakan.

Discovery, Serendipity, Friendly

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X