Kompas.com - 15/05/2016, 19:10 WIB
|
EditorDeliusno

KOMPAS.com - Peristiwa pembobolan Bank Sentral Bangladesh sebesar 81 juta dollar AS atau sekitar Rp 1 triliun disebut-sebut terkait dengan peretasan server Sony Picture pada 2014 lalu.

Keterkaitan tersebut terlihat dari "senjata" berupa malware yang digunakan peretas untuk membobol dua perusahaan besar itu.

Menurut BAE System, perusahaan keamanan cyber asal Eropa, pihaknya berhasil menemukan bukti bahwa malware yang dipakai tidak terlalu berbeda.

“Awalnya, insiden ini memang terlihat hanya terjadi pada satu Bank dari Asia. Kemudian diketahui bahwa serangan tersebut punya target lebih banyak," ujar Sergei Shevchenko dan Adrian Nish, dua peneliti dari BAE System.

Baca: Gara-gara Router Rp 130.000, Bank Kebobolan Rp 1 Triliun

Tidak hanya dua perusahaan itu, malware yang tidak jauh berbeda juga digunakan untuk menyerang sebuah bank di Vietnam. Sayangnya, tidak disebutkan nama bank tersebut.

Peretas dikatakan memakai malware untuk mengincar aplikasi pembaca file PDF yang biasa dipakai untuk mengecek pesan tertentu.

“Serangan di Vietnam tampaknya memakai metode yang sama. Peretas memanfaatkan malware yang sudah dimodifikasi dan dibuat berdasarkan kode pemrograman yang umum dipakai,” imbuhnya.

Lebih lanjut, kedua peneliti itu mengatakan bahwa malware yang dipakai memang sudah mendapatkan modifikasi tertentu. Tapi ada satu garis merah yang dapat ditarik.

Dilansir KompasTekno dari ZDNet, Minggu (15/5/2016) masing-masing malware yang dipakai menyerang Sony Pictures, Bank Sentral Bangladesh, dan sebuah bank di Vietnam tersebut punya fungsi pemusnahan dan penghapus data. Peretas menyelipkannya dalam aplikasi bernama msoutc.exe.

Baca: Hacker Kehilangan Rp 11 Triliun Hanya Karena Typo

Tindak peretasan Sony Pictures sendiri banyak dikaitkan dengan Korea Utara. Tapi menurut Shevcenko dan Nish, atribusi tersebut keliru. Mereka justru menemukan bahwa serangan itu hanya salah satu mata rantai peretasan yang dibuat oleh seorang ahli pemrograman.

“Kita tak bisa menentukan siapa pembuat program jahat tersebut, siapa yang mempekerjakan, serta apa motivasinya, dengan hanya mengandalkan bukti digital semata. Walaupun begitu, penemuan kami ini memberi petunjuk cukup penting untuk mengungkap pelakunya,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber ZDNet

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.