Situs Pribadi Ketua Dewan Penasehat ICMI Diretas?

Kompas.com - 14/06/2016, 11:21 WIB
Jimly.com Situs pribadi Ketua Dewan Penasehat ICMI, Jimly Asshiddiqie yang disebutnya diretas orang tidak bertanggung jawab.

KOMPAS.com - Setelah situs resmi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia ( ICMI) dijahili hacker atau peretas pada minggu lalu, kini giliran situs pribadi Ketua Dewan Penasehat ICMI, Jimly Asshiddiqie yang dijahili hacker, setidaknya menurut pengakuan Jimly sendiri.

Kepada Kompas.com, Jimly menduga situs pribadinya tersebut diserang oleh orang yang tidak menyukai dirinya, karena permintaan ICMI untuk memblokir situs YouTube dan Google di Indonesia.

"Iya mungkin karena posisi saya di ICMI," kata Jimmly saat ditemui dalam Milad DKPP ke empat di Gedung parkiran Gedung Badan Pengawas pemilu (Bawaslu), Senin (13/6/2016).

Pantauan KompasTekno pada Selasa (14/6/2016), situs pribadi Jimly yang beralamatkan URL http://jimly.com/ menampilkan halaman kosong dengan pemberitahuan bahwa situs sedang diperbaiki (under maintenance).

KOMPAS.com/Nabilla tashandra Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Jimly Asshiddiqie seusai acara haul Taufieq Kiemas dan buka bersama di kediaman Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Rabu (8/6/2016)
Situs pribadi Jimly yang telah berjalan 10 tahun itu disebut sebagai wadah masyarakat dan akademisi untuk mencari ilmu dan tanya jawab langsung dengannya. Media tersebut menjadi tempat Jimly dan masyarakat berinteraksi dengan terkait dunia politik dan lainnya.

"Itu website berisi makalah, buku gratis, tanya jawab seluruh mahasiswa Indonesia," ujar dia.

"Kasihan mahasiswa yang mau tanya kan. Ini yang memblokir saya rasa mungkin tidak puasa karena berbuat jahat," kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

Jimly pun meluruskan, dia sebenarnya tidak setuju jika pemerintah diminta memblokir situs Google dan YouTube. Menurut dia, semua media sosial memiliki kelebihan dan kekurangannya.

"Jadi itu (pemblokiran Google dan Youtube) tidak ada di program ICMI, itu tidak benar," ujar dia.



EditorReska K. Nistanto


Close Ads X