Heboh "Tahu Bulat" di Jagat Game

Kompas.com - 16/06/2016, 03:23 WIB
Yoga Hastyadi Widiartanto/Kompas.com Studio aplikasi asal Bandung mengadopsi tren tahu bulat menjadi sebuah permainan untuk ponsel Android

Setelah disempurnakan, game itu tayang sepekan kemudian. Maka, dimulailah hari-hari sibuk mereka berdua.

Pembuat game dalam negeri, terutama yang berbasis telepon pintar, mendapat peluang sejalan dengan penggunaan ponsel pintar yang luas. Survei Litbang Kompas akhir Mei lalu menyebutkan, 90 persen lebih dari 500 siswa SMA di Jabodetabek aktif memakai ponsel pintar.

Masa jaya

Pasar game dalam negeri juga dicium pengembang Touchten. Kantornya tersembunyi di pojok area parkir pertokoan Thamrin City di Lantai 7, Jakarta. Didirikan pada 2009, Touchten mempekerjakan sekitar 50 orang, rata-rata berusia di bawah 28 tahun.

”Tahun ini masa jaya pengembang game lokal. Tahun lalu belum ada game bikinan Indonesia di daftar teratas Play Store. Kini, dari lima besar, bisa ada tiga game bikinan dalam negeri,” kata pendiri Touchten, Anton Soeharyo (31).

Perusahaan itu ia bangun bersama adiknya, Rokimas Putra Soeharyo (28), dan sepupunya, Dede Indrapurna (29).

Berangkat dari pemain game, Anton membuat game setelah Apple mengeluarkan iPhone. Dalam perangkat itu ada game berjudul iFart, tentang bunyi- bunyi kentut. ”Aplikasi lucu kayak gitu ternyata menghasilkan Rp 600 juta per hari. Saya coba-cobalah bisnis ini,” katanya.

Game pertama yang mereka pasarkan adalah Sushi Chain, tentang pelayan di warung sushi. Ini menghasilkan tak kurang dari 10.000 dollar AS per bulan dari iklan selama sekitar satu tahun. Permainan itu diunduh 1,2 juta kali. Mereka pun berbunga-bunga.

”Awalnya orangtua nyuruh cari kerja. Waktu itu saya baru selesai kuliah di Jepang. Setelah saya tunjukkan rekening kepada orangtua, mereka bilang, ’Udah, enggak usah (cari) kerja lagi’,” kata Anton yang mendapat gelar master hubungan internasional dari Universitas Waseda, Tokyo.

Mereka membubuhkan cita rasa lokal di game selanjutnya, Warung Chain: Go Food Express. Ada makanan seperti bakso malang, ayam goreng spesial, dan tempe di situ. Hingga kini, mereka telah membuat 30 game dengan total unduh 15 juta kali.

Baca: Game Warung Indonesia Laris di iOS dan Android

Pakai riset

Di ranah berbeda, Brendan Satria Atmawidjaya (28) dari Kummara di Bandung mengembangkan permainan papan atau board games Mat Goceng selama sekitar dua tahun. Permainan itu berlatar budaya Betawi yang mirip adu jurus silat, tetapi menggunakan kartu.

Demi mendalami karakter Mat Goceng, si jago silat itu, ia membuat riset mendalam. Untuk mendapat alur cerita enak, Mat Goceng direvisi sampai delapan kali.

Menurut Brendan, permainan papan yang dimainkan dengan orang lain mendorong interaksi langsung. ”Gue yakinkan kepada orangtua, permainan ini bisa menyenangkan dan bermanfaat,” ujar lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB itu.

Begitulah, ketika para pejabat ribut soal impor daging, anak-anak muda kreatif justru mengekspor game bikinan mereka ke dunia. Tak hanya mengharumkan nama bangsa, mereka juga mendapatkan uang dan membuka lapangan kerja.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorReza Wahyudi
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X