Kompas.com - 19/07/2016, 11:34 WIB
|
EditorLatief

Pola itu di antaranya, ujung garis (ridge ending), garis bercabang (bifurcation), dan garis pendek menyerupai titik (short ridge). Tiga detail pada sidik jari ini tak pernah ditemui sama pada manusia.

Untuk memindai, mesin membutuhkan sensor. Jenis sensornya juga beragam. Optis atau optical fingerprint imaging, misalnya, memanfaatkan cahaya saat merekam pola sidik jari. Cara kerjanya mirip mesin fotocopy.

Jari diletakkan di atas sebuah scanner—biasanya berbahan kaca. Lalu, dari bawah scanner, pemancar cahaya menerangi permukaan ujung jari. Pantulan cahaya kemudian ditangkap alat penerima sehingga foto sidik jari pun didapat.

Sayangnya, teknik ini memiliki beberapa kekurangan. Pola sidik jari yang didapat sangat bergantung pada kondisi kulit telapak jari. Jika jari kotor atau kulit sedang terkelupas, misalnya, pemindai bisa saja gagal mengenali sidik jari.

Akibat kekurangan tersebut, ponsel pintar lebih memilih menggunakan sensor ultrasonik atau kapasitans (capacitive). Sensor ultrasonik, sesuai namanya, memanfaatkan gelombang ketika memindai sidik jari seperti pada ultrasonografi (USG) yang kerap digunakan untuk keperluan medis.

Hasil pemindaian sidik jari dengan sensor tersebut sudah berkualitis tiga dimensi (3D) sehingga kemungkinan pemalsuan lebih rendah. Identifikasi menggunakan sensor ultrasonik juga tak bergantung pada kualitas kulit jari.

THINKSTOCKPHOTOS Sensor optis pada pemindai sidik jari lebih banyak digunakan untuk keperluan keamanan gedung atau absensi karyawan.

Lain cerita jika menggunakan sensor kapasitans. Sistem ini menggunakan alat elektronik semacam kapasitor untuk memindai sidik jari. Kapasitor menyimpan muatan listrik yang disambungkan dengan piringan konduktif pada layar smartphone sehingga bisa digunakan melacak detail sidik jari.

Muatan listrik pada kapasitor akan sedikit berubah saat bagian garis menonjol pada sidik jari ditempelkan pada piringan konduktif. Sementara itu, antar sela garis yang menonjol hampir tidak berpengaruh terhadap kapasitor. Dari sini, citra sidik jari pun didapat.

Berdasarkan penjelasan di atas, proses identifikasi fingerprint memang terlihat lebih rumit dibanding kode angka atau pattern. Tapi, sistem ini sangat memudahkan pengguna smartphone. Tak perlu mengingat kode, pengguna cukup menempelkan jari dan akses smartphone pun terbuka.

Wajar, permintaan ponsel pintar yang dilengkapi fitur tersebut makin merajalela. Produsen ponsel pun semakin bersemangat menempelkan teknologi fingerprint pada produk mereka.

Lembaga peneliti pasar elektronik, HIS Technology, menyatakan tahun 2015 produksi sensor fingerprint untuk ponsel, tablet, dan notebook terus meningkat dari 316 juta unit pada 2014 menjadi 499 juta. Jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi 1,6 miliar unit tahun 2020.

Namun, pada awal perkembangannya, aplikasi teknologi fingerprint masih didominasi smartphone kelas atas berharga tinggi. Kini, sudah ada ponsel pintar kelas menengah dengan harga Rp 2 jutaan turut dipersenjatai sistem sama. Salah satu contoh Polytron Zap 6 Power.

Tak hanya fitur fingerprint. Zap 6 Power juga sudah mendukung jaringan 4G dan memiliki kapasitas baterai 5800 mAh. Berani coba?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.