Heru Margianto
Managing Editor Kompas.com

Wartawan Kompas.com. Meminati isu-isu politik dan keberagaman. Penikmat bintang-bintang di langit malam. 

kolom

Pokemon, Ketika Hidup adalah Permainan

Kompas.com - 22/07/2016, 10:10 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorReza Wahyudi

Rabbi yang aneh, pikir saya saat pertama mendengar cerita itu.

Bapak asrama saya kala itu menjelaskan, cerita itu ingin mengantarkan sebuah pesan bahwa orang kerap melupakan betapa indahnya hidup ini karena terpaku pada ujung –ujung kehidupan.

Sekarang di sini

Banyak orang hidup digelayuti masa lalunya atau disibukkan oleh aneka pikiran tentang masa depan dan melupakan hidup mereka saat ini di sini. Live at the present moment.

Banyak  orang bertanya apakah ada kehidupan setelah kematian, tapi lupa bertanya apakah ada kehidupan sebelum kematian. 

Banyak orang sibuk memikirkan hidupnya setelah kematian dan lupa menikmati hidupnya sebelum kematian.

Banyak orang lupa bahwa hidup adalah sebuah pesta yang harus dirayakan dengan gembira. Cinta dan welas asih adalah jamuannya.

Demi tujuan hidup, bahkan tujuan-tujuan yang sangat pendek apapun bentuknya, banyak orang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan itu dan mengabaikan proses yang selayaknya dijalani dengan gembira.

Barangkali, kita memang banyak dididik dan tumbuh berkembang dalam kultur masyarakat yang memuliakan hasil dan menisbikan proses.

Di sebuah siang, di akhir pekan,  di dalam kereta commuter line saya pernah mencuri dengar percakapan seorang ibu dengan anaknya, seorang bocah lelaki yang duduk di sekolah dasar. Taksiran saya, anaknya duduk di kelas 4 atau 5.

Kepada ibunya, anaknya mengungkapkan kekhawatirannya bahwa barangkali dia tidak bisa mendapatkan nilai bagus di ujian matematika hari Senin nanti. Kata-kata Si Ibu pada anaknya membuat hati saya meleleh.

Saya tidak ingat persis kata-katanya. Tapi kira-kira yang disampaikan Ibu itu pada anaknya adalah begini:

“Kamu kenapa harus takut? Mama kan enggak pernah minta kamu mendapat nilai bagus di sekolah. Yang paling penting buat Mama kamu senang belajar, senang menyiapkan diri dengan baik kalau mau ulangan, sekolah dengan senang, punya banyak teman. Nilai di sekolah itu, berapapun angkanya, adalah hasil dari kesenanganmu belajar, bukan tujuan.”

Kata-kata Si Ibu seperti sebuah tamparan di batin saya siang itu. Hati yang gembira adalah obat segala gundah. Gembira adalah soal menghidupi hidup sekarang di sini, di dalam hati, tanpa syarat. Sekali dia bersyarat, kegembiraan itu hilang.

Life is a song - sing it.
Life is a game - play it.
Life is a challenge - meet it.
Life is a dream - realize it.
Life is a sacrifice - offer it.
Life is love - enjoy it.

-Sai Baba

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.