Kulkas Pintar Memang Keren, Terus Kenapa?

Kompas.com - 25/07/2016, 15:28 WIB
Kulkas pintar Samsung dilengkapi layar di salah satu pintunya dan bisa dikendalikan lewat aplikasi smartphone Oik Yusuf/ KOMPAS.comKulkas pintar Samsung dilengkapi layar di salah satu pintunya dan bisa dikendalikan lewat aplikasi smartphone
Penulis Oik Yusuf
|
EditorDeliusno

SEOUL, KOMPAS.com - Konsep smart home menggambarkan masa depan berisi aneka macam perabot pintar yang saling terkoneksi dan berkomunikasi antara satu dan yang lainnya. Bayangkan kulkas yang bisa memberitahu pemiliknya bahan makanan apa yang sudah kadaluarsa, atau AC yang bisa dikendalikan dari jauh lewat ponsel.

Meski terdengar manis, smart home yang tercakup dalam payung besar Internet of Things (IoT) ini ternyata masih menjadi mimpi, bahkan di negeri serba canggih macam Korea Selatan sekalipun. Sebabnya, konsumen ternyata masih belum familiar atau memandang perlu membeli aneka perabot “pintar”.

“Reaksi pertama konsumen adalah berucap ‘wow, keren… terus kenapa saya harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan perabot pintar?’ Inilah gap yang ada di pasaran,” keluh Direktur Sales and Marketing grup Digital Appliances Samsung Electronics, Eunjou Min, mengisahkan keadaan pasar smart home appliances di Korea Selatan.

KompasTekno menjumpai Min di markas besar Samsung Electronics di Samsung Digital City, kota Suwon, Korea Selatan, Jumat (22/7/2016) kemarin.

Menurut dia, meskipun tergolong negara paling maju di kawasan Asia, secara umum konsumen di Korea Selatan masih tak acuh terhadap aneka perabot pintar. Lantaran harganya masih mahal, perabot pintar baru terjangkau oleh konsumen berusia tua yang kaya tapi “gaptek”.

“Mereka beli (perabot pintar) untuk pamer, tapi lalu kemampuannya tidak dipakai. Kami mencoba menjangkau konsumen mainstream yang lebih muda, namun ini masih butuh waktu dua hingga tiga tahun lagi,” kata Min.

Masih belum matang

Di luar konsumen, Min menyebutkan bahwa model bisnis di ekosistem Smarthome sendiri sebenarnya masih berada dalam tahap “inkubasi” alias belum matang.

Smart home, menurut dia, bukan sekadar perkara jual produk, melainkan juga melibatkan aneka pelaku bisnis lain yang saling terkait untuk mewujudkan ekosistem rumah pintar secara keseluruhan.

Para pelaku bisnis lain ini adalah operator telekomunikasi, retail channel, dan penyedia konten. “Untuk sekarang, kami masih merumuskan soal siapa yang bertanggung jawab untuk apa,” tambah Min.

Oik Yusuf/ KOMPAS.com Direktur Sales and Marketing grup Digital Appliances Samsung Electronics, Eunjou Min
Samsung sendiri disebutnya sudah siap memasarkan aneka produk perabot pintar.

Tapi, ya itu tadi, Samsung tak bisa berjalan sendirian untuk mewujudkan ekosistem smart home di masa depan. Seperti apapun jadinya perwujudan smart home nanti, Min menekankan pentingnya membuat nilai tambah bagi perangkat pintar yang dinilai bermanfaat oleh konsumen.

“Tak peduli apa teknologinya, konsumen harus berkata. “Nah, inilah yang saya mau’. Setelah itu, barulah mereka akan bersedia membayar,” pungkas Min.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X