Startup Lokal Dapat "Tamparan" Saat Berguru ke Pakar Google

Kompas.com - 10/08/2016, 07:28 WIB
Peserta Google Lauchpad Accelerator 2 bersama tim Google, Selasa (9/8/2016), dalam rangkaian acara Fatimah Kartini Bohang/kompas.comPeserta Google Lauchpad Accelerator 2 bersama tim Google, Selasa (9/8/2016), dalam rangkaian acara "Google for Indonesia", di Hotel Ritz Carlton, Jakarta.
|
EditorReza Wahyudi

JAKARTA, KOMPAS.com - Google kembali mengadakan Launchpad Accelerator untuk kedua kalinya di Silicon Valley, AS, pada Juni lalu. Program bimbingan startup tersebut mempertemukan para pengembang terpilih dari Indonesia, Brasil, Meksiko, dan India.

Setelah menghabiskan dua minggu berguru dengan para pakar Google di Lembah Silikon, enam startup dari Indonesia akhirnya pulang ke Tanah Air dengan membawa ilmu baru. Tak selesai sampai di situ, mereka masih akan tetap mendapat bimbingan jarak jauh dari para mentor hingga enam bulan ke depan.

Pada acara "Google for Indonesia", Selasa (9/8/2016), di Ritz Carlton, Jakarta, keenam pengembang startup pun berbagi cerita tentang pengalaman dan pelajaran yang diperoleh dari Silicon Valley.

Co-founder sekaligus CPO Ruangguru.com, Iman Usman, mengatakan dirinya seperti "ditampar" setelah bertemu dengan para mentor yang berpengalaman di industri startup. Menurut dia, ada beberapa hal yang sebelumnya terasa benar kemudian baru diketahui salah.

"Banyak ditampar sana-sini dari segi manajemen tim, user experience, user interface, pengembangan bisnis, dan lainnya," kata dia sembari tersenyum.

Iman pun berusaha mengimplementasikan pelajaran yang didapat di Silicon Valley ke Ruangguru.com. Salah satunya, ia mulai melihat segala sesuatu dari gambaran besar alias big picture.

Selama ini, ia mengaku cenderung mematok rencana jangka pendek. Padahal bisnis yang sustainable harus mampu menjawab pertanyaan "mau dibawa ke mana startup ini?" Isman menuturkan.

Hal ini diiyakan founder dan CEO Jarvis Store, Frianto Moerdowo. Ia menyadari sebuah startup harus selalu melihat rencana jangka panjang. Dari situ, barulah rencana-rencana jangka pendek bisa dibuat.

"Ini juga untuk menjaga rencana jangka pendek jangan sampai merusak rencana besarnya," kata dia.

Frianto pun berpesan agar startup lokal yang baru mulai atau telah menjalankan usahanya agar tak termakan asumsi diri sendiri. Itu sekaligus merupakan "tamparan" dari Silicon Valley untuk dirinya.

Pria asal Bali ini mengatakan kerap berasumsi dalam implementasi UX, UI, dan bahkan dalam mematok target audiens pada layanannya. Jika bukan asumsi diri sendiri, Frianto biasanya hanya mengandalkan pendapat teman-teman di sekitarnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X