Ada Kedubes Bekasi di PopCon Asia 2016

Kompas.com - 13/08/2016, 10:09 WIB
Karya forum kreatif Kedubes Bekasi berupa notebook berbentuk passport, yang ditampilkan di PopCon Asia 2016. Yoga Hastyadi Widiartanto/Kompas.comKarya forum kreatif Kedubes Bekasi berupa notebook berbentuk passport, yang ditampilkan di PopCon Asia 2016.
|
EditorReska K. Nistanto

JAKARTA, KOMPAS.com - Bila menyusuri bagian dekat panggung utama PopCon Asia 2016 di Jakarta Convention Center, Anda akan menemukan stand Kedutaan Besar (Kedubes) Bekasi. Di tempat ini disajikan berbagai karya kreatif.

Satu hal yang paling mencolok —bahkan, mungkin membuat orang yang melihatnya nyengir, adalah buku mungil berwarna hijau tua. Pada sampul buku tersebut ada tulisan “Paspor Kedutaan Besar Bekasi” lengkap dengan logo berupa golok dan untaian padi.

“Namanya agak provokatif ya? Ini idenya berawal saat dulu Bekasi sempat di-bully, lalu kami buat Kedubes Bekasi,” terang Founder Kedubes Bekasi, Fithor Faris saat bincang dengan KompasTekno, Jumat (12/8/2016).

Tentu saja Kedubes ini punya arti berbeda dengan Kedubes dalam arti sebenarnya. Begitu pula bagian logo yang dicetak di muka passport, bukanlah logo Kabupaten Bekasi dalam arti sebenarnya. Semua merupakan karya kreatif buatan Fithor dan rekan-rekannya.

“Jadi ini merupakan forum, wadah berkumpulnya pemuda-pemuda kreatif di Bekasi. Anggotanya ada yang pebisnis, penulis, ilustrator, hingga pelukis. Kami membuat ini karena Bekasi itu sepi, tidak seperti daerah lain yang punya forum kreatif,” imbuhnya.

Sebagai sebuah forum kreatif, orang-orang di dalamnya pun terlibat, berkolaborasi dan menggerakkan berbagai kegiatan mencipta karya, mempublikasikan, hingga menyadarkan orang tentang pentingnya artifak bersejarah.

Yoga Hastyadi Widiartanto/Kompas.com Booth Kedubes Bekasi di acara PopCon Asia 2016, Jakarta, Jumat (12/8/2016).

Fithor mencontohkan kegiatan terkini mereka adalah aksi menghidupkan kembali Gedung Juang 45 Bekasi. Gedung tersebut merupakan bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia, namun sempat terlantar.

“Saat itu, di lantai duanya bahkan dihuni banyak kelelawar. Tiap sore kelelawar yang banyak itu terbang,” ujarnya mengilustrasikan betapa terlantarnya gedung tersebut.

Di tangan anggota Kedubes Bekasi, Gedung Juang 45 yang terlantar itu disulap menjadi galeri seni. Pelan-pelan, pengunjung pun datang. Hingga sekarang, bangunan tua itu sudah mulai diperhatikan lagi.

Fithor sendiri berkarya sebagai penulis dan menghasilkan sebuah novel berjudul Simha. Dia bekerja sama dengan Khalid Albakaziy yang membuatkan ilustrasi cerita dalam novel tersebut.

Sekarang, forum kreatif yang berpusat di Jatikramat, Bekasi itu memiliki anggota lebih kurang 30 orang, termasuk Fithor dan Khalid.

“Saya berharap forum kreatif ini nanti bisa menyebar ke daerah Bekasi yang lain,” tutupnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X