Telkom Bakal Dipaksa Berbagi Jaringan?

Kompas.com - 13/08/2016, 14:10 WIB
Menara base transceiver station (BTS) ShutterstockMenara base transceiver station (BTS)
|
EditorReska K. Nistanto

KOMPAS.com - Perusahaan pelat merah, PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) kemungkinan bakal dipaksa berbagi jaringan dengan pesaingnya jika terjadi perubahan aturan mengenai penyelenggaraan telekomunikasi.

Secara spesifik, perubahan peraturan telekomunikasi yang dimaksud adalah Pertaruran Pemerintah (PP) No 52 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Komunikasi dan PP No 53 Tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.

Sumber internal pemerintah menyebutkan, proposal mengenai perubahan aturan tersebut akan berdampak liberalisasi sektor telekomunikasi, sekaligus mempercepat penggelaran jangkauan jaringan telekomunikasi dalam durasi tiga tahun.

“Kalau terus membangun jaringan fixed dan mobile dengan metode yang dipakai sekarang, kita akan rugi lebih kurang 15 miliar dollar AS (sekitar Rp 196,5 triliun) demi memperluas jaringan,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara seperti dilansir KompasTekno dari Reuters, Sabtu (13/8/2016).

“Mestinya memakai strategi pembangunan yang lebih efisien, yaitu yang memungkinan terjadinya active sharing,” imbuhnya sambil merujuk pada konsep berbagi spektrum atau frekuensi telekomunikasi.

Telkom memiliki banyak saingan di wilayah Pulau Jawa. Tapi di luar Jawa, perusahaan pelat merah ini telah lama mendominasi. Tarif yang dibebankan pada daerah terpencil pun bisa dua kali lipat tarif di kota besar.

Telkom juga memiliki kontribusi besar terhadap pemasukkan negara. Tahun lalu saja, perusahaan menghasilkan lebih kurang Rp 32 triliun untuk pemerintah, termasuk di dalamnya dividen serta pajak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Operator-operator lain yang lebih kecil ketimbang Telkom berharap rencana network sharing ini terwujud. Di antaranya adalah PT XL Axiata serta Indosat, yang mayoritas sahamnya masing-masing berada di tangan Axiata Grup Malaysia dan Ooredoo asal Qatar.

Tapi di sisi lain, pemerintah terlihat enggan mengubah kebijakan karena akan memengaruhi sektor lain, misalnya keamanan nasional.

Dibicarakan dengan Menko Perekonomian

Halaman:


Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.