Tak Peduli Isu Monopoli, Telkomsel Tetap Ekspansi ke Luar Jawa

Kompas.com - 24/08/2016, 13:20 WIB
(Ki-ka) Wakil Gubernur NTT Benny Alexander Litelnoni, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menkopolhukam Wiranto, dan Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah dalam peresmian BTS di Kalabahi, Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/8/2016). Telkomsel(Ki-ka) Wakil Gubernur NTT Benny Alexander Litelnoni, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menkopolhukam Wiranto, dan Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah dalam peresmian BTS di Kalabahi, Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/8/2016).
|
EditorReska K. Nistanto

KOMPAS.com - Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah mengatakan tak peduli dengan isu monopoli Telkomsel di luar Pulau Jawa yang menerpa perusahaan yang dipimpinnya. Ririek berjanji Telkomsel konsisten berekspansi membangun jaringan di di luar Jawa, karena operator lain cenderung lambat.

Sekadar diketahui, sebelumnya Telkomsel dituding memonopoli layanan telekomunikasi di luar Jawa. Alasan tudingan tersebut adalah pangsa pasar operator pelat merah ini di luar Jawa, yang diperkirakan mencapai 80 persen.

“Kalau ada isu monopoli, itu tak menjadi alasan kami untuk berhenti bangun. Akan jadi lama kalau menunggu operator lain masuk (ke luar Jawa),” ujar Ririek dalam peresmian BTS Telkomsel di Kalabahi, Alor, Nusa Tenggara Timur, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Caecilia Mediana, Rabu (24/8/2016).

Baca: Dituding Monopoli di Luar Jawa, Ini Tanggapan Telkomsel

Dia menambahkan, saat ini Telkomsel sudah memiliki lebih kurang 600 base transceiver station (BTS) yang memberikan layanan telekomunikasi di wilayah perbatasan, baik antar negara atau antar propinsi.

BTS di wilayah perbatasan, menurut Ririek, terbagi jadi tiga kategori. Pertama, BTS yang menguntungkan secara bisnis; Kedua, tidak menguntungkan secara bisnis, tapi menguntungkan dalam hal menumbuhkan ekonomi masyarakat setempat; Ketiga, daerah yang tidak menguntungkan sama sekali.

Ririek pun menjamin bahwa Telkomsel berkomitmen menghadirkan layanan telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia.

“(BTS di perbatasan) untuk mendukung aktivitas ekonomi, juga mendukung keutuhan NKRI. Membangun BTS di perbatasan akan lebih banyak daerah yang merdeka secara telekomunikasi,” terangnya.

“Di Alor, ada 250.000 penduduk, kami layani dengan 70 BTS dan tambahkan 2 BTS 4G. Ada mobile BTS yang mudah bergerak dan kami bawa ke Moru (Alor Barat Daya) satu unit,” tegasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X