Kisah Anak Pinggiran Belajar dan Akhirnya Jadi Guru "Coding"

Kompas.com - 10/10/2016, 14:37 WIB
Tasripin (tengah), beserta sejumlah peserta pelatihan coding dengan metode bermain Kompas/Ingki RinaldiTasripin (tengah), beserta sejumlah peserta pelatihan coding dengan metode bermain "game" untuk membuat "game," Sabtu (8/10) di Gedung Harian Kompas, Jakarta.
|
EditorReza Wahyudi

KOMPAS.com - Gegap gempita perubahan teknologi informasi yang mengubah cara orang-orang berkomunikasi dan mendistribusikan informasi, turut mengubah pula struktur sosial ekonomi masyarakat.

Institusi ekonomi dengan model bisnis lama yang mapan di era masyarakat industri, sebagian di antaranya mulai kolaps dan tidak mampu menerjemahkan serta menjalankan strategi di era masyarakat informasi.

Dalam gegap gempita itu, masyarakat cenderung semakin terpolarisasi dan secara umum terbagi, dengan kelompok yang punya akses pada teknologi dan kaum yang cenderung terpinggirkan dari gegap gempita penggunaan teknologi.

Di antara sebagian kelompok masyarakat yang terpinggirkan itu ada Muhamad Syahrul Ramadan (16) dan Fadhilah Fajar (15), dua orang bocah dari Bekasi yang bersekolah di SMP Terbuka Ilalang.

Fajar anak ke-3 dari empat bersaudara. Adapun Sahrul merupakan sulung dari tiga bersaudara. Orangtua kedua bocah itu memiliki mata pencaharian sebagai pekerja lepas dengan penghasilan tak menentu.

Irna, pengajar dan pengasuh kedua bocah tersebut di SMP Terbuka Ilalang bercerita tentang bagaimana proses panjang mendidik keduanya. Sejumlah kebiasaan, yang relatif jauh dari adaptasi logika ilmiah serta etika, perlahan-lahan mulai diubah.

Salah satu cara yang dibiasakan Irna adalah dengan meminta mereka untuk membuat kutipan-kutipan kalimat dengan nuansa dan semangat positif. Kutipan-kutipan kalimat itu lalu diunggah ke akun media sosial masing-masing, sebagai sebuah cara berkomunikasi masyarakat informasi yang tak bisa terelakkan.

Tanggal 5 Desember 2015, bersama Irna, keduanya turut dalam pelatihan membuat game dengan bahasa pemrograman ( coding) yang dilakukan sembari bermain game.

Pelatihan di Gedung Harian Kompas dalam bingkai kegiatan Hour of Code serta dilangsungkan pula di sejumlah negara, yang diikuti pengurus sejumlah komunitas itu membuat Fajar dan Sahrul menemukan hasrat hidup mereka.

Belakangan, keduanya memperoleh beasiswa untuk belajar lebih lanjut tentang dunia pemrograman komputer guna membuat “game” dari Clevio Coder Camp. Setelah usai masa belajar lewat fasilitas beasiswa tersebut, keduanya mulai mengajari kawan-kawan mereka di sejumlah sekolah.

“Kami memang sudah dibiasakan menjadi tutor sebaya untuk sharing ilmu,” kata Sahrul, Sabtu (8/10/2016) tentang keputusannya untuk mengajari rekan-rekannya.

Hari itu Sahrul dan Fajar datang untuk menjadi tutor dalam pelatihan membuat game dengan cara bermain game yang diadakan di Gedung Harian Kompas dengan sejumlah instruktur dari lembaga Clevio Coder Camp.

Pengalaman pertama mereka mengajar rekan-rekan sendiri terjadi sekitar satu bulan setelah masa belajar dengan beasiswa itu usai. Mereka mengajar murid-murid di SMP Terbuka Ilalang.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X