Perbandingan Kamera "Mirrorless", Sony a6500 Vs Fujifilm X-T2

Kompas.com - 11/10/2016, 15:52 WIB
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReza Wahyudi


KOMPAS.com - Pengumuman hadirnya Sony Alpha a6500 pekan lalu terbilang mengejutkan. Bagaimana tidak? Kemunculan flagship baru utuk segmen kamera mirrorless APS-C Sony itu terjadi hanya berselang delapan bulan dari rilis produk sebelumnya, Alpha a6300.

Padahal, Sony mengambil jarak waktu dua tahun antara a6300 dengan a6000 -kamera pertama dari seri mirrorless a6000 yang populer- yang diperkenalkan pada 2014.

Penampilan fisik a6500 sendiri bisa dibilang sangat mirip dengan a6300 dan a6000, masih mengadopsi faktor bentuk ala rangefinder dengan jendela bidik elektronik di pojok kiri atas.

Namun, Sony menerapkan sejumlah peningkatan penting yang tak kasat mata, di antaranya fitur 5-axis in-body image stabilizer (IBIS), layar sentuh, dan buffer berukuran besar yang mampu menampung ratusan file dalam burst mode.

Baca: Apa Itu Kamera Mirrorless, Bedanya dengan DSLR?

Bersama dengan itu, harganya ditingkatkan pula, mencapai 1.400 dollar AS (body only) atau lebih mahal 400 dollar AS dibandingkan a6300. Angka itu juga dua kali lebih tinggi dibandingkan harga awal a6000 yang dipatok sebesar 650 dollar AS pada saat peluncuran.

A6000 dan a6300 bakal tetap dijual di pasaran, berdampingan dengan a6500 sehingga Sony memiliki tiga kamera mirrorless APS-C dari seri a6000 yang diposisikan di segmen-segmen harga berbeda.

Tingginya harga a6500 membuat beberapa pihak membandingkannya dengan kamera andalan Fujifilm, X-T2, yang dibanderol berselisih 200 dollar AS di angka 1.600 dollar AS.

Mana yang lebih unggul di antara dua jagoan ini? KompasTekno mencoba menyajikan perbandingan X-T2 atau a6500, ditilik dari beberapa aspek.

Desain

Pertama-tama, mari kita soroti terlebih dahulu perbedaan yang paling kentara, yakni penampilan fisik kedua kamera. A6500 dan X-T2 sejatinya menganut “paham” yang berbeda.

Sony menerapkan faktor bentuk ala rangefinder untuk a6500, dengan cangkang berbentuk persegi panjang dan viewfinder elektronik terintegrasi yang menyatu mulus dengan tubuhnya, sehingga bagian atas kamera ini terlihat rata.

Fujifilm X-T2 (kiri) menerapkan faktor bentuk ala DSLR tradisional dengan EVF di bagian tengah. Fisiknya lebih tinggi dibandingkan a6500 (dalam gambar ini diwakili a6300 yang memiliki dimensi fisik serupa).

Camerasize.com Fujifilm X-T2 (kiri) menerapkan desain ala retro dengan kenop-kenop pengaturan manual, sementara a6500 lebih modern dengan kenop PASM standar dan dua command dial. Sony menambahkan sebuah tombol custom function (c1/c2) di sisi atas a6500.

Sebaliknya, X-T2 menganut faktor bentuk ala DSLR. Viewfinder ditempatkan bukan menyatu rata dengan bodi, melainkan di dalam sebuah “tonjolan” di bagian tengah.

Sony dan Fujifilm juga mengambil filosofi desain yang berbeda untuk lini kamera mirrorless masing-masing.

X-T2, sebagaimana kamera mirrorless X-series lain dari Fujifilm (kecuali seri X-A), mengusung gaya kontrol ala kamera jadul dengan aneka macam kenop untuk mengatur kecepatan rana, seperti pada DSLR film, lalu kenop-kenop lain untuk mengatur exposure compensation, ISO, drive mode, sampai metering.

Sebagian lensa Fujifilm turut dilengkapi aperture ring (elektronik) di dekat bagian mounting, mirip dengan lensa-lensa lawas.

Sebaliknya, desain a6500 terbilang utilitarian dan konvensional, dengan mode dial PSAM standar serta dua kenop di bagian belakang untuk mengatur aneka setting.  Sony menambahkan tombol custom function tambahan di sisi atas, dekat tombol shutter release.

Sony Dibandingkan a6300 (kiri), handgrip pada a6500 lebih tebal dan memiliki kontur sedikit berbeda.

Tubuh a6500 bertambah tebal 5 mm dari a6000, mungkin untuk mengakomodir 5-axis IBIS di dalamnya. Meski begitu, ukuran a6500 secara keseluruhan lebih ringkas dan ringan dibandingkan X-T2.

Mana yang lebih mudah dipakai atau cocok dengan pengguna? Semua tergantung selera dan kebiasaan saja.

Dari segi bentuk, mungkin a6500 lebih tepat dibandingkan dengan X-Pro2 dair Fujifilm yang sama-sama memiliki form factor rangefinder meski punya sejumlah perbedaan seperti adanya viewfinder optik.

Layar

Satu fitur a6500 yang jarang dimiliki kamera kelas menengah-atas adalah layar sentuh. Layar ini bisa pula ditekuk di atas dan ke bawah (tilt) untuk pemotretan high/low angle.

Touchscreen di a6500 bisa digunakan untuk memilih lokasi titik autofokus, termasuk ketika pengguna sedang membidik lewat EVF.

Oik Yusuf/ KOMPAS.com Layar sentuh pada a6500 bisa dipakai untuk memindah-mindahkan lokasi titik AF dengan sentuhan jari.

Caranya cukup dengan menyentuhkan ibu jari ke touchscreen lalu menggeser-geser lokasi AF sesuai kehendak. Fitur yang dikenal dengan istilah “touchpad AF” ini pertama kali diperkenalkan oleh kamera mirrorless micro four-thirds.  

Layar sentuh pada a6500 sekaligus bisa digunakan untuk focus pulling, yakni mengubah (jarak) titik fokus dengan menyentuh touchscreen saat merekam video.

X-T2 tak memiliki layar sentuh, tapi penggunanya bisa memanfaatkan sebuah joystick khusus yang terletak di bagian belakang untuk memilih lokasi titik AF yang aktif.

Oik Yusuf/ KOMPAS.com Layar itu juga bisa ditekuk secara portrait sehingga praktis untuk pemotretan vertikal secara low-angle, seperti dalam contoh di gambar sebelah kanan.

Layar tilt screen milik X-T2 juga tak hanya bisa ditekuk ke atas dan bawah seperti a6500, namun juga ke arah kanan untuk membantu pemotretan dengan orientasi portrait.

Sensor

Baik a6500 maupun X-T2 sama-sama dilengkapi sensor APS-C dengan resolusi 24 megapiksel. Bedanya terletak pada teknologi yang digunakan.

Fujifilm memakai filter array X-Trans yang tidak “memburamkan” gambar untuk mengurangi moire (anti-aliasing), seperti yang dilakukan filter array Bayer konvensional.

Hasil jepretan dan rekaman videonya pun dikliam menjadi lebih tajam dibanding sensor sekelas yang memakai filter Bayer, namun lebih rentan menghasilkan efek moire.

Fujifilm Sensor X Trans yang digunakan di hampir semua kamera mirrorless Fujifim (kecuali seri X-A) memiliki pola filter warna yang berbeda dari filter Bayer konvensional. Pola filter X-Trans diklaim sanggup menekan moire tanpa memburamkan gambar dengan teknik anti-aliasing.

Di sisi lain, a6500 masih mengandalkan sensor dengan filter array Bayer yang sama dengan milik a6300. Sensor ini menggunakan konstruksi copper wiring baru yang diklaim mampu menekan tingkat noise di setting ISO tinggi.

Rentang sensitivitas native X-T2 adalah ISO 200 hingga ISO 12.800 dengan opsi extended hingga ISO 51.200 atau ISO 100 di titik bawah. A6300 memiliki range native mulai dari ISO 100 hingga ISO 25.600, juga dengan ekspansi hingga ISO 51.200.

Sensor pada a6500 dipasangkan dengan chip “front-end” bernama LSI yang diklaim mampu meningkatkan kualitas gambar sekaligus kecepatan proses buffer dalam burst shooting.

Sony Teknologi copper wiring pada sensor a6500/ a6300 diklaim menghasilkan ukuran foto dioda (pixe) lebih besar sehingga mampu meredam noise di tingkat ISO tinggi.

Dilihat dari hasil jepretan a6300, a6500 yang memiliki sensor serupa seharusnya merupakan salah satu mirrorless APS-C dengan kualitas gambar terbaik saat ini. Begitu juga dengan X-T2 yang hasil fotonya tak kalah indah.

X-T2 memiliki keunikan lain berupa simulasi film slide dan negatif Fujifilm yang senantiasa hadir di kamera mirrorless besutannya. Tipe simulasi yang tersedia mencakup film Provia, Velvia, Astia, dan Acros.

Autofokus

Bicara soal kinerja fokus, a6500 dan X-T2 adalah dua kamera mirrorless dengan AF terkencang yang sanggup menyamai atau melebihi kemampuan auto focus DSLR kelas menengah.

Keduanya sama-sama menerapkan teknologi phase-detect di sensor gambar, selain contrast-detect yang umum digunakan pada kamera mirrorless.  

Phase detect mampu mendeteksi jarak subyek foto berdasarkan cahaya yang masuk dari lensa -tak harus maju-mundur lebih dahulu seperti pada contrast detect-, lalu langsung mengarahkan motor fokus lensa ke jarak yang sesuai.

Berbekal teknologi ini, a6500 dan X-T2 pun sama-sama mampu mengunci fokus pada obyek bergerak (tracking, continuous AF) dengan cepat dan akurat.

Perbedaannya terletak pada jumlah dan sebaran phase detect. Tak seperti contrast detect yang bisa memanfaatkan seluruh permukaan sensor untuk mendeteksi fokus, phase detect membutuhkan pixel khusus di sensor yang didedikasikan untuk proses deteksi fasa.

Sony, Fujifilm X-T2 (kiri) memiliki 169 titik phase detect AF yang sebarannya terkonsentrasi di bagian tengah frame (ditandai persegi berukuran lebih besar). Sementara, a6500 memiliki 425 titik phase detect AF dengan sebaran lebih merata.
Jumlah dan sebaran pixel khusus ini biasanya terbatas dan tak mencakup seluruh sensor. Apabila subyek foto berada di luar cakupan phase detect, maka kamera akan mengubah metode auto fokus menggunakan contrast detect yang lebih lamban.

X-T2 memiliki 169 titik phase detect AF yang terkonsentrasi di bagian tengah frame (40 persen), sementara a6500 -seperti a6300- memiliki 425 titik yang sebarannya lebih meluas hingga ke pinggiran frame.

Kedua kamera menyediakan opsi untuk mengatur sensitivitas tracking fokus, misalnya disesuaikan agar tak tiba-tiba “melompat” berpindah fokus ketika ada obyek lain yang melintas di depan subyek utama. Opsi pengaturan yang ditawarkan oleh X-T2 dalam hal ini relatif lebih lengkap

Fujifilm X-T2 menyediakan opsi pengaturan AF yang lengkap.

Kedua pabrikan sama-sama mengklaim kecepatan AF maksimum di kisaran 0.05-0.06 detik. Tapi dalam prakteknya hal ini tergantung banyak hal seperti kondisi cahaya, jenis subyek, lensa yang dipakai, serta ketepatan teknik memotret.

Kamera manapun, misalnya, akan lebih kesulitan dan pelan mengunci fokus di subyek dengan kontras rendah dalam kondisi remang-remang, ketimbang di luar ruangan saat siang hari.

Burst speed

Masih terkait dengan kinerja tracking, a6500 sanggup menjepret 11 frame dalam 1 detk (11 FPS) dalam mode continuous shot alias burst, sementara X-T2 sedikit lebih rendah di angka 8 FPS.

Kinerja continous shot X-T2 bisa ditingkatkan hingga mencapai 11 FPS dengan memasang aksesori battery grip VPB-X-T2, serta mencapai 14 FPS apabila memakai shutter elektronik dan battery grip.

Kedua kamera menawarkan opsi “live view” dalam continuous shot untuk terus menayangkan posisi subyek secara real-time dengan “blackout” singkat. Dalam mode live view ini, a6500 memiliki kecepatan 8 FPS sementara X-T2 5 FPS.

Sony a6500 memiliki buffer berkapasitas besar yang sanggup menyimpan ratusan gambar dalam sekali burst.

X-T2 memiliki buffer yang sanggup menyimpan maksimum 73 frame JPEG/ 30 frame RAW dalam continuous shot (11 FPS). Dengan frame rate yang sama, a6500 mampu merekam maksimum 310 frame JPEG/ 107 frame RAW, jauh lebih tinggi dibandingkan a6300 yang mentok di angka 44 frame JPEG/ 21 frame RAW.

Kecepatan rana maksimum a6500 adalah 1/4000 detik dengan shutter mekanik atau 1/32000 detik dengan shutter elektronik. X-T2 lebih cepat 1 stop di angka 1/8000 detik untuk shutter mekanik dan 1/32000 detik untuk shutter elektronik.

Kecepatan rana maksimum untuk sinkronisasi flash (x-sync) di a6500 juga lebih rendah, yakni 1/160 detik, dibanding 1/250 detik pada X-T2, atau berselisih 2/3 stop.

Video

Sebagai produk andalan dari pabrikan masing-masing di segmen mirrorless APS-C, a6500 dan X-T2 sanggup merekam video 4K dengan oversampling. Artinya, kedua kamera menggunakan seluruh sensor (24 megapiksel) untuk merekam video, untuk kemudian dikecilkan menjadi resolusi 4K (8 megapiksel).

Hasilnya adalah rekaman video 4K yang sangat tajam dan jernih. a6500 dan X-T2 bisa merekam videp 4K dengan frame rate hingga 30 FPS dan bitrate 100 Mbps.

A6500 turut menyediakan full-HD (1920 x 1080) dengan frame rate 120 FPS untuk slow-motion, berikut profil gamma S-Log3 yang sangat flat untuk memperlebar cakupan dynamic range hingga 14 stop untuk mempermudah proses grading warna saat editing.

Sony Untuk mendapatkan rekaman 4K yang sangat tajam, a6500 merekam video dalam format 6K (20 megapiksel) untuk kemudian dikecilkan menjadi resolusi 4K (8 megapiksel). Teknik oversampling ini juga diterapkan oleh X-T2.
Sebaliknya, X-T2 mengandalkan aneka simulasi film (Provia, Velvia, Astia, classic chrome, dsb) yang bisa langsung diterapkan di video -seperti juga foto- hasil rekaman kamera, di samping profil gamma F-log.

Kedua kamera sama-sama diengkapi input audio 3,5mm sehingga bisa dipasangi aneka macam mikrofon eksternal untuk keperluan merekam suara. X-T2 menambahkan colokan jack headphone di aksesori battery grip yang dijual terpisah.

Touchscreen milik a6500 memberikan kelebihan tersendiri soal video karena mempermudah pengguna dalam mengganti-ganti titik fokus, hanya dengan menyentuh layar.

Sample video X-T2 dan a6300 (yang memilik fitur perekaman sama dengan a6500) banyak beredar di situs-situs video sharing seperti YouTube.

Pilihan lensa

Fujifilm menyediakan lini lensa yang terbilang lengkap untuk para kamera mirrorless buatannya, termasuk aneka lensa prime dan zoom dengan jangkauan focal length dari 10mm hingga 400mm, juga tele converter.

Total Fujifilm menyediakan 22 lensa prime dan zoom, dua tele converter (1,4x dan 2x), dan sebuah adapter untuk lensa M mount ke X Mount.

Fujifilm Ilustrasi keluarga lensa Fujinon

Sony memiliki 15 lensa prime dan zoom native mirorless APS-C yang bisa dipakai oleh para pemilik a6500. Secara keseluruhan, pilihan lensa native untuk a6500 lebih sedikit dibandingkan X-T2.

Sony, misalnya, tidak menyediakan seri lensa zoom profesional dengan constant aperture f/2.8 yang sesuai untuk mirrorless APS-C, atau lensa tele dengan jangkauan 100-400mm.


Sony A6500 bisa dipasangi lensa FE untuk seri kamera mirrorless Sony, seperti FE 24-70mm f/2.8 GM dalam gambar. Namun lensa full frame cenderung berukuran besar dan memiliki focal length yang kurang cocok untuk kamera APS-C. Rentang 24-70mm misalnya, akan menghasilkan bidang pandang setara 35-105mm pada APS-C.
Kekurangan tersebut sedikit banyak bisa diatasi dengan memakai lensa FE mount untuk kamera mirrorless full-frame Sony, juga seri lensa  DLSR A mount/merek lain dengan bantuan adapter khusus, namun sebagian lensa-lensa ini berukuran besar sehingga kurang cocok dipasangkan dengan bodi a6500 yang mungil.

Untungnya, beberapa pabrikan pihak ketiga seperti Sigma, Carl Zeiss, dan Samyang juga membuat lensa untuk mirrorless Sony dan Fujifilm sehingga memperluas pilihan di luar lensa native bikinan sang pembuat kamera.

Aksesori lain seperti flash gun terbilang cukup banyak untuk kedua kamera, dengan beberapa pilihan yang tersedia, baik dari Sony, Fujifilm, maupun pihak-pihak ketiga.

 

Fitur lain

Di samping layar sentuh, fitur andalan lain dari a6500 adalah 5-axis IBIS yang sanggup menstabilkan gambar dari semua lensa yang terpasang, baik untuk menjepret foto maupun merekam video.

Saat dipasangi lensa yang sudah memiliki fitur image stabilizer (OSS), a6500 akan mempercayakan 2 fungsi koreksi goyangan, yakni pitch dan yaw (sumbu X dan Y) ke lensa, sementara koreksi pada 3 sumbu lainnya ditangani oleh IBIS.

Fitur 5-axis IBIS pada a6500 diklaim memiliki efektivitas hingga 5 stop. Artinya, pengguna hanya butuh shutter speed yang 32 kali lebih rendah dibandingkan aturan konvensional 1/focal length untuk memperoleh gambar tajam.

Misalnya, kecepatan rana 1 detik bisa membuahkan hasil yang sama tajam (bebas buram) dengan kecepatan 1/30 detik untuk memotret subyek statis yang tidak bergerak. Ini kalau memang klaim Sony benar adanya.

Sony A6500 memiliki 5-axis in-body image stabilizer yang diklaim sanggup memberikan kompensasi shutter speed hingga 5 stop.

X-T2 tidak memiliki in-body image stabilizer sehingga pengguna bergantung pada lensa untuk memperoleh fitur peredam goyangan. Sementara, tak semua lensa Fujifilm dilengkapi image stabilizer. Fitur yang satu ini (IBIS) memang masih absen dari semua kamera mirrorless Fuji hingga sekarang.

Meski demikian, X-T2 memiliki beberapa kelebihan lain yang bakal lebih berguna untuk pengguna tertentu, seperti misalnya dua slot kartu memori. Pengguna bisa mengatur apakah kartu memori kedua akan difungsikan sebagai tempat merekam RAW/ video, atau sebagai backup (mirroring) atau cadangan (subsequent).

Ada juga aksesori battery grip baru yang bukan hanya menambah daya tahan baterai dan mempermudah pemotretan dengan orientasi portrait, melainkan juga meningkatkan kinerja focus tracking/continuous shot, serta menyediakan jack headphone.

Kelebihan lain yang tak lekas terlihat, X-T2 memiliki bodi tangguh yang tahan cipratan air dan debu (splash and dust resistant), juga tahan dingin dengan suhu hingga minus 10 derajat celsius. Kemampuan ini didukung oleh beberapa lensa yang juga sama tangguhnya.

Fujifilm Seperti X-T1 sebelumnya, X-T2 sanggup diajak berbasah-basah (asalkan tidak terendam air) karena memiliki fitur weather resistant. Sejumlah lensa Fujinon dari Fujifilm juga memiliki fitur weather resistance.

Sebaliknya, meski bodi a6500 disebut sebagai “weather resistant”, Sony tak menyediakan lini lensa native APS-C mirrorless yang memiliki kapabilitas serupa. Hanya lensa-lensa full frame FE mount berharga mahal yang dilengkapi kemampuan tersebut.

Bagus mana?

Lalu, mana yang lebih bagus di antara a6500 dan X-T2? Sekali lagi, semuanya tergantung selera dan kebutuhan.  Kedua kamera mirrorless APS-C kelas atas ini sebenarnya memiliki deretan fitur yang sangat lengkap dan kemampuan yang jauh melebihi kebutuhan mayoritas pengguna kamera digital.

Kualitas foto dan video a6500 dan X-T2 bisa dibilang sama bagusnya, jadi pertimbangkanlah aspek dan fitur lain di luar image quality dalam memilih.

Ingin touchscreen dan IBIS? Mungkin a6500 lebih cocok. Butuh kamera tangguh untuk kebutuhan profesional? Kelengkapan fitur dan ekosistem lensa yang mendampingi X-T2 bisa dijadikan pilihan.

Ada baiknya juga mencoba handling kedua kamera dengan tangan sendiri mengingat kedua pabrikan menerapkan filosofi desain yang berbeda di produk masing-masing. Fujifilm dengan desain retro serba kenop, serta Sony dengan desain modern dan utilitarian.

X-T2 sudah tersedia di pasaran Indonesia dengan banderol mulai Rp 23 juta. Jadwal kedatangan dan banderol a6500 belum diketahui, tetapi Sony mematok harga internasional sebesar 1.400 dollar AS atau sekitar Rp 18 juta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.