Facebook Khawatir Kontennya Benar Pengaruhi Hasil Pemilu AS

Kompas.com - 14/11/2016, 07:12 WIB
Pemenang pemilu Amerika Serika, Donal Trump, saat memberikan pidato kemenangandi New York City. Trump mengalahkan Hilary Cliton dalam pemungutan suara. CHIP SOMODEVILLAPemenang pemilu Amerika Serika, Donal Trump, saat memberikan pidato kemenangandi New York City. Trump mengalahkan Hilary Cliton dalam pemungutan suara.
|
EditorReska K. Nistanto

KOMPAS.com - CEO Facebook Mark Zuckerberg telah membantah bahwa algoritma News Feed di media sosialnya turut andil memenangkan Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS). Namun tim internalnya berkata lain, bahkan disebut-sebut langsung menggelar rapat khusus masalah ini.

Sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa tim internal Facebook mulai khawatir dengan cara News Feed Facebookn menyajikan konten.

Sejumlah eksekutif Facebook pun merasakan kekhawatiran yang sama. Mereka memutuskan bahwa tim mesti menyelidiki kemungkinan masalah tersebut dan meredakan kekhawatiran yang merebak di kalangan pegawai.

Baca: Algoritma Facebook Bikin Donald Trump Menangi Pemilu AS?

Informasi yang dirangkum KompasTekno dari New York Times, Senin (14/11/2016), tiga orang sumber yang enggan disebutkan namanya bahkan mengaku melihat para eksekutif langsung mengadakan rapat kecil dengan tim kebijakan perusahaan.

Seperti diketahui, belakangan ini di dunia maya ramai beredar dugaan Facebook berperan dalam memenangkan Trump. Alasannya adalah filter bubble atau cara kerja algoritma untuk menyajikan konten News Feed.

Algoritma News Feed berusaha menemukan artikel yang memiliki interaksi tinggi, dan menyodorkannya, tak peduli apakah kabar itu berita positif atau negatif. Artinya, bila pengguna mengklik artikel tertentu, dan dianggap menyukainya, maka selanjutnya News Feed bakal menampilkan artikel sejenis.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Algoritma ini bekerja tanpa membedakan apakah artikel yang disodorkan itu fakta atau ternyata keliru.

Soal kemungkinan filter bubble ini juga mendapat tanggapan dari associate profesor di University of North Carolina, Zeynep Tufekci. Dia mencontohkannya dengan keramaian yang terjadi pada sebuah artikel hoax atau palsu.

“Ada sebuah cerita fiktif yang mengklaim Paus Fransiskus mendukung Trump. Cerita itu dibagikan lebih dari sejuta kali, dan diprediksi dilihat oleh lebih dari 10 juta orang,” ujar Zeynep.

“Sementara itu artikel yang mengoreksi cerita fiktif itu sama sekali tidak terdengar. (Melihat hal ini) tentu saja Facebook memiliki pengaruh terhadap hasil Pemilihan Umum Presiden AS lalu,” imbuhnya.

Bantahan Mark Zuckerberg

CEO Facebook Mark Zuckerberg sendiri menulis sebuah status panjang sebagai bantahan dari segala tudingan yang beredar. Menurutnya, artikel hoax yang beredar di jejaring sosialnya sangat sedikit. Bahkan terlalu sedikit untuk memberi pengaruh.

“Dari seluruh konten di Facebook, lebih dari 99 persen yang dilihat orang adalah konten yang otentik. Jumlah berita palsu dan hoax justru sangat kecil. Karena itu, sangat tidak mungkin sebuah hoax bisa mengarahkan hasil Pemilihan Umum,” tulis Mark.

“Saya sangat yakin bahwa kita bisa menemukan cara agar komunitas bisa memberitahukan konten mana yang paling bermakna. Tapi saya juga yakin bahwa kita perlu sangat berhati-hati agar diri kita tidak menjadi orang yang memutuskan kebenaran,” imbuhnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.