Patuhi TKDN, Huawei Ingin Jadi "Anak Baik"

Kompas.com - 09/12/2016, 10:27 WIB
Hudson Liu, CEO Huawei Indonesia di acara peluncuran Huawei P9 di Jakarta, Kamis (8/12/2016). Oik Yusuf/KOMPAS.comHudson Liu, CEO Huawei Indonesia di acara peluncuran Huawei P9 di Jakarta, Kamis (8/12/2016).
Penulis Oik Yusuf
|
EditorDeliusno

JAKARTA, KOMPAS.com - Smartphone flagship Huawei, P9, terganjal regulasi pemerintah soal tingkat kandungan dalam negeri ( TKDN) untuk ponsel 4G LTE yang dipasarkan di Indonesia. Ponsel kelas atas yang pertama kali diperkenalkan pada April lalu ini pun telat masuk Indonesia.

Meski demikian, CEO Huawei Indonesia, Hudson Liu, menegaskan komitmen pihaknya untuk mengikuti aturan main yang berlaku di Indonesia dengan memenuhi ketentuan TKDN. 
 
"Kami ingin jadi 'anak baik', makanya kami melakukan upaya untuk menghadirkan P9. Kami tidak mau menyelundupkan barang, kami mengikuti protokol," ujar Liu ketika berbicara dalam acara peluncuran Huawei P9 di Jakarta, Kamis (8/12/2016).
 
Di Indonesia, Huawei mendirikan fasilitas produksi ponsel di kota Surabaya, Jawa Timur, melalui kemitraan dengan PT Panggung Electric sebagai rekanan manufaktur. 
 
Pabrik yang memiliki 6 lini produksi itu merakit semua model ponsel 4G LTE Huawei yang dipasarkan di Indonesia, termasuk juga seri high-end seperti P9 dan P9 Lite. Pada Mei lalu, Huawei mengumumkan bahwa pabriknya di Surabaya telah berhasil memproduksi 1 juta ponsel 4G LTE. 

Baca: Belum Dirilis, Huawei P10 Dipastikan Diproduksi di Indonesia

 
Aturan TKDN ponsel 4G diresmikan oleh Kementerian Perindustrian pada awal September lalu. Ada tiga skema yang ditawarkan untuk memenuhi kandungan lokal, yakni lewat jalur hardware, software, dan komitmen investasi.
 
Huawei tidak mengungkap berapa persisnya tingkat kandungan lokal yang sudah terdapat dalam ponsel-ponsel 4G besutannya. Namun, terdapat ketentuan bahwa ponsel 4G yang dipasarkan di Indonesia pada 2016 harus memenuhi TKDN 20 persen. Per 1 Januari 2017 mendatang, persyaratan kandungan lokal itu akan ditingkatkan menjadi 30 persen.
 
COO Consumer Business Group Huawei Technologies Asia Pacific, Henry Hsu mengatakan pihaknya masih menimbang-nimbang jalur mana yang bakal ditempuh untuk memenuhi persyaratan tersebut.
 
"Kami mempelajari, misalnya, untuk jalur software apa saja yang diperlukan. Setelah itu tentu kami akan mengikuti aturan mainnya," kata Hsu.
 
Ingin besar di Indonesia
 
Dengan hadirnya P9 di Indonesia, Huawei berharap ingin mendongkrak posisinya di pasaran smartphone Indonesia. Hsu mencontohkan Malaysia, di mana 30 persen penjualan ponsel disumbang oleh seri P9.
 
Data keluaran firma riset IDC pada September lalu menunjukkan bahwa Huawei masih belum masuk daftar lima besar pabrikan smartphone terbesar di Indonesia. Posisi pertama masih ditempati Samsung, kemudian berturut-turut menyusul Oppo, Asus, Advan, dan Lenovo.
 
Hsu mengakui, meski meraja di ranah perangkat infrastruktur telekomunikasi, pangsa Huawei di pasaran smartphone Indonesia terhitung masih kecil jika dibandingkan dengan brand lain.
 
"Mungkin sekitar 3 hingga 4 persen. Tahun depan kami targetkan akan naik menjadi 10 persen," katanya. Dia mengaku optimis Huawei bisa merengkuh market share lebih besar dengan merilis produk-produk andalan seperti P9. 

Baca: Resmi di Indonesia, Huawei P9 Leica Dijual Rp 7 Juta

 
"Dua atau tiga tahun lalu kami hanya bisa memasarkan 4.000-an unit ponsel di Indonesia. Tahun ini kami sudah bisa memasarkan sekitar 150.000 unit," ujar Hsu.
 
Di pasaran smartphone internasional, Huawei memiliki market share global sebesar 11,2 persen pada paruh pertama 2016. Tahun lalu, penguasaan pasarnya sebesar 8,5 persen.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X