Kompas.com - 14/12/2016, 13:18 WIB
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReska K. Nistanto

JAKARTA, KOMPAS.com — Serangan program jahat (malware) kategori ransomware terus bertambah. Tahun lalu saja, menurut laporan firma keamanan Malwarebytes, sebanyak 40 persen perusahaan bisnis di seluruh dunia mengalami serangan ransomware.

Ransomware menjengkelkan karena sifatnya yang "menyandera" data pengguna dengan melakukan teknik enkripsi, lantas meminta uang tebusan apabila pengguna ingin mengakses kembali data yang terkunci itu. Kalau tebusan tak dibayar, data pun terancam lenyap selamanya.

Bagaimana mengamankan data dari ancaman ransomware? Direktur Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan, caranya tiada lain adalah dengan mem-backup data yang bersangkutan. Ini karena program antivirus mana pun tidak ada yang benar-benar 100 persen aman dan bisa memblokir ransomware.

"Satu-satunya cara mengamankan data, ya, dengan melakukan backup," kata Alfons ketika berbicara dalam seminar Evaluasi 2016 dan Tren Malware Indonesia 2017 Vaksincom di Jakarta, Rabu (14/12/2016).

Alfons menyarankan dua metode backup untuk dua jenis data berbeda. Bagi data "fast moving" yang sering dipakai seperti file dokumen pekerjaan, menurut dia, sebaiknya pakai jasa cloud storage yang banyak tersedia.

Baca: Waspada, PC Terkena "Ransomware" Tidak Bisa Diperbaiki

"File pekerjaan ini biasanya berukuran kecil, tidak terlalu besar, sehingga bisa cukup diakomodasi oleh cloud storage yang tersedia secara gratis," kata Alfons sambil mencontohkan Google Drive yang memberikan cloud storage cuma-cuma sebesar 15 GB.

Alfons mengatakan, layanan cloud relatif aman karena kebanyakan menyimpan history data pengguna selama beberapa waktu ke belakang.

Untuk data "slow moving" yang berukuran besar tetapi jarang-jarang diakses seperti koleksi film atau foto, Alfons menyarankan agar backup disimpan di harddisk konvensional. Dia mewanti-wanti agar harddisk penyimpan backup tidak terkoneksi ke internet (offline) supaya aman.

"Kuncinya di situ, jangan sambungkan harddisk ke internet atau jaringan lokal. Kalau terkoneksi, masih rawan diserang ransomware atau malware lain," katanya. Hal ini relatif mudah dilakukan dengan harddisk eksternal. Cukup simpan data di harddisk, lalu jangan sambungkan ke komputer kecuali saat hendak diakses.

Alfons sendiri mengaku memilih media storage lain yang lebih lawas dan benar-benar tidak dapat ditulisi atau disandera oleh ransomware, yakni cakram DVD. "Setahun sekali saya biasanya burn data ke DVD itu," pungkas Alfons.

Baca: Kenapa Banyak Serangan "Cyber" dari Indonesia?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.