Google Akui Belum Bisa Kontrol Berita "Hoax" di Hasil Pencarian

Kompas.com - 14/12/2016, 18:21 WIB
Penulis Tim Cek Fakta
|
EditorTim Cek Fakta

JAKARTA, KOMPAS.com - Berita hoax yang kerap menyebar kebencian makin mewabah di internet. Google sebagai wadah pencarian informasi pun sedikit banyak berkontribusi terhadap maraknya tren tersebut.

Hal ini disadari Managing Director Google Indonesia, Tony Keusgen. Menurut dia, Google sebagai platform selama ini cuma berperan sebagai penghimpun sehingga tak bisa mengontrol berbagai informasi yang diunggah netizen ke internet.

"Ada pihak-pihak tertentu yang memasukkan informasi palsu di internet dan terhimpun di Google. Kami belum bisa mengontrol itu," kata dia, Rabu (14/12/2016) dalam acara Google Year in Search di The Gunawarman, Jakarta.

Meski demikian, ia mengatakan Google sebisa mungkin merekomendasikan informasi yang akurat di hasil pencarian teratas. Hal tersebut diiyakan Communication Leads Google Indonesia, Putri Silalahi.

"Di Google News kami bekerja sama dengan teman-teman media yang kredibel. Tujuannya supaya ketika netizen mencari berita tertentu, yang muncul paling atas adalah berita-berita faktual dan terpercaya," ia menuturkan.

Untuk pencarian mobile, Google juga menyematkan teknologi Accelerated Mobile Pages (AMP) khusus bagi orgnanisasi media yang kompeten. Fungsinya untuk meringankan artikel ketika dibuka netizen.

"Kalau website media kredibel dibuat ringan, netizen juga akan cenderung memilih membuka artikel-artikel itu," kata dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Situs penyebar hoax raup pendapatan ratusan juta rupiah

Beberapa saat lalu, Komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia membeberkan bahwa berita hoax telah menjadi komoditas. Ada oknum-oknum yang sengaja membuat situs berita hoax untuk meraup pendapatan.

Inisiator komunitas tersebut, Septiaji Eko Nugroho, dengan gamblang menyebut dua di antara banyak situs hoax, yakni pos-metro.com dan nusanews.com. Ia mengklaim dua situs itu bisa berpenghasilan Rp 600 juta hingga Rp 700 juta per tahunnya dari Google AdSense.

Baca: Dua Situs Penyebar Hoax di Indonesia

Bahkan, kata dia, ada pegawai negeri sipil (PNS) tak segan mencari nafkah dengan menyebar berita bohong. Jika dibiarkan terus, bukan tak mungkin masyarakat semakin banyak yang terjun sebagai pembuat berita hoax.

Putri mengatakan isu penyebaran berita hoax akan menjadi perhatian Google ke depannya. Sebab, pada dasarnya raksasa mesin pencari tersebut bertujuan mempermudah masyarakat mencari informasi benar tentan apa saja.

"Soal filter itu bisa kami pikirkan ke depan. Yang sudah pasti kami lakukan adalah semakin erat kerja sama dengan teman-teman media," ia menjelaskan.

Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat umum juga berperan aktif untuk memberantas berita hoax, apalagi yang mencari duit dari situ. Situs-situs yang menyematkan AdSense bisa dilaporkan dengan mencantumkan flag agar dikaji lebih jauh oleh Google.

Baca: Remaja Raup Rp 2,6 Miliar dari Bikin Berita Hoax Pilpres AS



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.