Reska K. Nistanto

Wartawan teknologi dan pehobi dunia penerbangan.

kolom

Menyoal Pelayanan Maskapai Penerbangan bagi Lansia dan Penyandang Disabilitas

Kompas.com - 12/01/2017, 14:24 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorDeliusno

Minggu ini kita dibuat kagum oleh tindakan awak kabin Garuda Indonesia yang mengambil inisiatif menggendong seorang ibu lanjut usia, melewati lorong koridor untuk turun dari pesawat. Keputusan itu diambil setelah kursi roda dan ambulift yang telah diminta tidak kunjung datang.

Peristiwa itu terjadi pada penerbangan GA 821 rute Kuala Lumpur-Jakarta, Sabtu (7/1/2017) siang.

Ada dua reaksi di grup-grup percakapan dan akun-akun media sosial yang saya ikuti. Sebagian banyak yang memuji tindakan awak kabin tersebut yang dengan tulus membantu seorang ibu lanjut usia, walau hal itu sebenarnya tidak ada dalam SOP-nya.

Namun tak sedikit pula yang berpikir kritis, bagaimana sebenarnya prosedur operasional dalam melayani penumpang pesawat lanjut usia (lansia) atau kaum penyandang disabilitas. Haruskah prosedur "gendong-menggendong" dilakukan di kemudian hari jika awak kabin menemui keadaan yang sama?

Aturan mengenai standar pelayanan penumpang pesawat dan lanjut usia ini sebenarnya sudah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, yang diperkuat dengan Peraturan menteri (PM) Nomor 49 Tahun 2012 tentang Standar Pelayanan Penumpang untuk Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Dalam UU No 1/2009, Pasal 134 tertulis: "Penyandang cacat, lanjut usia, anak-anak di bawah usia 12 (dua belas) tahun, dan/atau orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan dan fasilitas khusus dari badan usaha angkutan udara niaga."

Pelayanan berupa perlakuan dan fasilitas khusus tersebut meliputi penyediaan fasilitas kemudahan untuk naik ke dan turun dari pesawat udara.

Sementara aturan standar pelayanan penumpang dengan kebutuhan khusus diatur dalam PM No 49 Tahun 2012 Bab IV. Di dalamnya meliputi pelayanan sebelum penerbangan (pre-flight), selama penerbangan (in-flight), dan setelah penerbangan (post-flight).

Di Pasal 61 juga dijelaskan bahwa maskapai juga harus menyediakan kursi roda bagi penumpang berkebutuhan khusus. Penumpang tersebut harus didampingi oleh petugas yang sudah terlatih.

Soal kursi roda ini, menurut standar pelayanan dunia, sebenarya setidaknya ada tiga kursi roda yang bisa digunakan dalam membantu penumpang. Ketiganya memiliki fungsi sesuai peruntukannya, misalnya kursi roda untuk mengantar penumpang dari ruang tunggu ke gerbang (gate). Kursi roda jenis ini berkode WCHR.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.